|

Hantu Maradona di Balik Laga Argentina vs Inggris: Bukan Sekadar Sepak Bola

Duel Panas Argentina vs Inggris di Semifinal Piala Dunia

Semifinal Piala Dunia antara Argentina dan Inggris bukanlah pertandingan biasa. Di balik gengsi memperebutkan tiket ke final, ada bayangan besar yang terus menghantui: Diego Armando Maradona. Kisah rivalitas ini sudah berlangsung puluhan tahun, dipicu oleh luka perang, dendam sejarah, dan tentu saja, momen-momen ikonik di lapangan hijau.

Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, tampak enggan membahas muatan emosional di balik laga ini. Saat ditanya wartawan usai kemenangan dramatis atas Swiss di perempat final, Scaloni memotong dan menegaskan, “Ini hanya pertandingan sepak bola. Jangan cari hal lain.” Ucapan itu persis sama dengan yang diucapkan Maradona 40 tahun lalu menjelang laga melawan Inggris di Piala Dunia 1986.

Maradona dan Luka Malvinas yang Tak Pernah Sembuh

Tahun 1986, Perang Falklands (atau Malvinas menurut sebutan Argentina) baru berlangsung empat tahun sebelumnya. Konflik 74 hari itu merenggut nyawa ratusan tentara dari kedua sisi. Bagi rakyat Argentina, luka itu masih sangat perih. Saat itu, Maradona juga berkata, “Ini hanya pertandingan,” kepada media. Namun keesokan harinya, saat kedua tim masuk lapangan, bek Argentina José Luis Brown mengenang: “Diego tiba-tiba mengamuk. Dia bilang, ‘Mereka membunuh tetangga kita, keluarga kita.’ Setelah lagu kebangsaan, tak ada yang bicara, tapi kami semua memikirkannya. Kami hanya berlari dan bertarung.”

Kini, 40 tahun kemudian, pertandingan Argentina vs Inggris kembali memunculkan spektrum Maradona. Bagi publik Argentina, konflik Malvinas masih hidup dalam ingatan kolektif, diturunkan secara lisan dan terus bergema di media sosial. Sosok Maradona, meski sudah wafat pada 2020, tetap menjadi ikon yang digandrungi. Tak seperti pendukung Inggris yang tidak mengibarkan wajah Bobby Charlton, atau Brasil yang tidak membawa foto Pelé, suporter Argentina terus meneriakkan nama Maradona di setiap stadion Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat.

Warisan Maradona: Sentimen Anti-Inggris yang Mengakar

Di era AI, bahkan beredar video viral yang menunjukkan Lionel Messi bertemu Maradona di surga, berjalan bersama Yesus Kristus. Ini menunjukkan tingkat pemujaan yang hanya diberikan kepada “El Pibe de Oro”. Pandangan Maradona terhadap Inggris pun tetap hidup. Generasi baru suporter Argentina terpapar foto Maradona merayakan gol kedua tahun 1986 di tengah sorot mata marah fans Inggris. Kutipan-kutipan lamanya seperti “Saya bermain dengan sepatu dan senapan” kembali viral. Maradona bahkan pernah menuduh Inggris mencuri kemenangan Piala Dunia 1966 dan 2018.

Namun, sentimen itu sudah mendarah daging. Setelah kemenangan dramatis atas Mesir di babak 16 besar, pemain Argentina bernyanyi dan menari di ruang ganti dengan lirik lagu La Cuarta Estrella: “Saya orang Argentina dari buaian sampai liang lahat, demi Malvinas, demi Diego, demi kejuaraan terakhir Leo.” Lagu yang dirilis Maret lalu itu menjadi anthem tim, jauh sebelum mereka tahu akan bertemu Inggris. Bagi Argentina, kehadiran Inggris di semifinal bukanlah kebetulan—ini adalah pemantik emosi yang sudah dipersiapkan.

Messi: Pertama Kali Hadapi Inggris, Beban Sejarah di Pundak

Argentina datang ke semifinal dengan kondisi fisik terkuras: 240 menit bermain dalam waktu kurang dari sepekan. Skuad yang digalang oleh pemain senior ini belum menunjukkan performa terbaik, nyaris tersingkir dua kali oleh lawan yang dianggap lebih lemah. Namun, faktor emosional bisa menjadi pembeda.

Lionel Messi sendiri belum pernah bermain melawan Inggris. Satu-satunya kesempatan pada 2005 gagal karena larangan bermain akibat akumulasi kartu merah. “Ini spesial karena pertama kalinya saya menghadapi Inggris,” ujar Messi datar. “Mereka salah satu negara adidaya sepak bola. Akan menarik bermain melawan tim sekaliber itu di semifinal Piala Dunia.” Jawaban yang sangat terlatih—namun siapa pun tahu, ada lebih banyak yang dipertaruhkan. Seperti Scaloni dan Maradona sebelumnya, Messi tidak bisa menipu siapa pun.

Kesimpulan: Bukan Sekadar 90 Menit

Laga Argentina vs Inggris di semifinal ini adalah pertemuan antara dua bangsa yang dipisahkan oleh sejarah kelam dan dipersatukan oleh kecintaan pada sepak bola. Argentina vs Inggris bukan hanya soal taktik atau skill individu, melainkan juga tentang harga diri, kenangan akan Maradona, dan luka Malvinas yang belum sepenuhnya sembuh. Di lapangan, para pemain akan berjuang bukan hanya untuk tiket final, tetapi juga untuk membawa pulang “bintang keempat”—sekaligus menghormati legenda yang tak pernah benar-benar pergi.

Similar Posts