|

Davide Ancelotti dan Misi Membangun Nama di Lille

Davide Ancelotti kini menakhodai Lille dan tengah berupaya membangun identitas kepelatihannya sendiri, lepas dari bayang-bayang sang ayah, Carlo Ancelotti, yang dikenal sebagai salah satu pelatih tersukses di Eropa. Nama Ancelotti di dunia sepak bola sudah identik dengan deretan trofi, terutama di kompetisi antarklub Eropa, sehingga setiap langkah Davide otomatis menjadi sorotan. Di Ligue 1, ia mulai menunjukkan arah baru bersama Lille meski tantangan yang dihadapinya jelas tidak ringan.

Penunjukan Davide pada musim panas lalu menandai perubahan haluan bagi Lille, yang biasanya memilih pelatih berpengalaman di Ligue 1. Keputusan itu diambil oleh Presiden Olivier Létang, sosok yang sudah mengenal Davide sejak lama lewat kerja sama mereka di Paris Saint-Germain pada 2012. Pilihan tersebut memicu ekspektasi tinggi, mengingat reputasi keluarga Ancelotti sekaligus kebutuhan Lille untuk tetap kompetitif di level domestik maupun Eropa.

Kiprah Davide Ancelotti dan Hasil Imbang Lawan Monaco

Menjelang laga melawan Monaco pada Minggu, pelatih Filipe Luís menyebut Davide sebagai “pribadi yang benar-benar tangguh”. Hubungan keduanya terbilang hangat, terbangun dari kenangan saat sama-sama berada di sebuah restoran di Rio de Janeiro, meski Botafogo dan Flamengo merupakan rival sengit di lapangan. Bagi Filipe Luís, menghadapi Davide adalah momen yang istimewa dan menyenangkan, sebuah bentuk respek antarsesama pelatih muda yang sedang meniti karier.

Dalam pertandingan itu, Lille sempat unggul lewat Ethan Mbappé dari satu-satunya peluang bersih di babak pertama. Setelah itu, mereka memilih mundur dan bertahan, sehingga Monaco semakin leluasa menekan. Bahkan sebelum Tanguy Nianzou dikartumerah karena tekel ceroboh terhadap Paris Brunner, Lille sudah berada dalam tekanan berat.

Keputusan Ancelotti menarik striker Soriba Diaoune dan memasukkan bek Isaac Cossier mencerminkan rasa waswas sang pelatih terhadap jalannya laga. Monaco akhirnya menyamakan kedudukan lewat Edan Diop sekitar 15 menit sebelum bubaran, dan terus menggempur hingga peluit akhir. Meski satu tim tampak lebih dominan, poin akhirnya dibagi rata, dan Ancelotti memilih memuji “solidaritas” anak asuhnya sebagai modal utama.

Latar Belakang: Dari Bayang-Bayang Carlo hingga Kursi Pelatih Lille

Jalur karier Davide berbeda jauh dari kebanyakan pelatih seusianya. Selain sempat menangani Botafogo dalam 33 pertandingan, ia menghabiskan sekitar 14 tahun mengikuti ayahnya berpindah dari satu klub ke klub lain, lalu ke tim nasional Brasil. Perjalanannya membentang dari tepi Sungai Mersey, Bavaria, Stadion Diego Armando Maradona, kemegahan Bernabéu, hingga semarak Maracanã, tetapi ia selalu berada di balik layar.

Sebelum Lille tampil di Liga Champions musim ini, Davide sempat menyatakan harapannya agar bisa menulis kisahnya sendiri, termasuk lewat nama depannya. Pernyataan itu wajar mengingat sang ayah telah mencetak rekor luar biasa di kompetisi elite Eropa, dengan lima gelar dan 218 pertandingan, lebih banyak dari pelatih mana pun. Beban sejarah itulah yang kini mewarnai setiap langkah Davide.

Létang sendiri sebenarnya tidak asing dengan Davide berkat kebersamaan mereka di PSG pada 2012, ketika Carlo menjadi pelatih, Létang menjabat direktur sepak bola, dan Davide bekerja sebagai pelatih kebugaran. Meski sudah mengenalnya, Létang tetap memakai Carlo sebagai perantara saat mendekati Davide pada musim panas ini. Carlo bahkan sempat menyaksikan langsung perkembangan Lille dari tribun, termasuk saat tim itu bermain imbang dengan PSG pada Agustus.

Penunjukan Davide juga menandai pergeseran pola di Lille, yang sebelumnya kerap memilih sosok “aman” seperti Christophe Galtier, Jocelyn Gourvennec, Paulo Fonseca, dan Bruno Génésio, yang umumnya berpengalaman di Ligue 1. Génésio hengkang pada musim panas setelah kontraknya berakhir, kendati sudah memenuhi target utama klub untuk lolos ke Liga Champions musim ini. Létang hanya menyebut bahwa saat itu “adalah momen yang tepat” untuk berpisah jalan.

Dampak dan Tekanan: Ekspektasi Besar di Pundak Davide

Perbandingan dengan sang ayah memang terasa tidak adil, tetapi sulit dihindari. Ekspektasi terhadap Davide terbentuk oleh dua dekade kesuksesan Carlo yang nyaris tak tertandingi, sehingga standar yang dibebankan kepadanya nyaris mustahil dipenuhi. Setiap pertandingan pun dibaca sebagai bukti kejeniusan yang diwarisi, atau justru sebaliknya, ketiadaannya.

Di pentas domestik, catatan Lille sejatinya menjanjikan. Raihan satu poin di Stade Louis II membawa mereka mengumpulkan 15 poin dari delapan laga, hanya terpaut satu angka dari pemimpin klasemen Ligue 1, Rennes, dan menjadi start terbaik mereka sejak menjuarai liga pada 2020-21. Namun di Liga Champions, Lille belum memetik kemenangan dari tiga pertandingan dan terpuruk di posisi kedua dari bawah pada tabel 36 tim. Kontras antara performa domestik dan Eropa inilah yang menjadi ujian terbesar bagi Ancelotti muda.

  • Rennes memimpin dengan 16 poin dari 8 laga.
  • Lille dan Monaco menguntit dengan 15 poin.
  • Lyon dan PSG menyusul dengan 14 poin, masing-masing baru memainkan 7 laga.

Laga melawan Monaco sendiri belum memberi banyak bukti kejeniusan. Setelah unggul, Lille justru kehilangan kendali permainan dan nyaris pulang tanpa poin. Ancelotti telah keluar dari bayang-bayang ayahnya, tetapi belum benar-benar melangkah ke bawah sorot lampu utama, dan tanda-tanda identitas permainannya masih ditunggu.

Konteks Ligue 1: Jadwal Berantakan dan Hak Siar

Pekan itu tidak menyajikan laga besar pada Minggu malam. Pertandingan antara PSG dan Lyon ditunda hingga Senin, sehingga sejumlah besar dari sembilan nominasi Ballon d’Or milik PSG harus absen dari upacara di London. Penundaan serupa pernah terjadi tahun lalu akibat badai, yang membuat laga PSG di Marseille mundur 24 jam.

Berbeda dengan kota-kota provinsi, aksi protes yang direncanakan di Paris pada Sabtu tidak dilarang. Dengan kehadiran polisi dalam jumlah besar untuk mencegah kerusuhan dan penjarahan seperti pekan sebelumnya, ditambah jadwal laga NFL pada Minggu sore, prefektur mengeluarkan arahan yang kemudian diadopsi liga Prancis pada Jumat. Gangguan juga merembet ke laga lain, seperti Toulouse melawan Troyes yang digeser dari Sabtu ke Minggu, Montpellier melawan Red Star di Ligue 2 yang berpindah ke Senin, serta kick-off Saint-Étienne kontra Nantes yang tertunda 45 menit.

Di luar lapangan, Ligue 1 kembali membuka lelang hak siar setelah nilainya merosot dalam beberapa musim terakhir. DAZN mundur hanya setelah satu musim pada 2024, memunculkan eksperimen Ligue 1+ yang dikelola liga dan kini memasuki musim kedua, sukses secara editorial tetapi tidak dari sisi finansial. Presiden liga, Vincent Labrune, mengumumkan lelang baru yang akan dimulai bulan depan dan berakhir Desember, dengan kesepakatan berlaku mulai musim depan serta menyebut adanya “konteks baru” dan “minat konkret dari sejumlah pihak”. Ligue 1 jelas tidak bisa menanggung kesepakatan gagal lagi.

Penutup

Davide Ancelotti telah membuktikan bahwa ia bukan sekadar nama yang menumpang ketenaran sang ayah. Bersama Lille, ia mencatat start domestik terbaik klub dalam beberapa tahun terakhir dan membangun hubungan hangat dengan para pelatih muda lain di Ligue 1. Namun, torehan di Liga Champions yang belum memuaskan menunjukkan bahwa perjalanannya masih panjang.

Yang tersisa kini adalah pembuktian: apakah Davide mampu merumuskan identitas permainan yang khas dan membawa Lille melangkah lebih jauh, atau ia akan terus dinilai lewat kacamata warisan Carlo. Pertandingan demi pertandingan akan menjadi jawabannya, dan sepak bola Prancis menanti apakah nama depannya bisa berdiri sejajar dengan nama belakangnya.

Similar Posts