Krisis Kepemilikan Chelsea: Boehly Pergi, Siapa Disalahkan?
Krisis kepemilikan Chelsea memasuki babak paling krusial setelah Todd Boehly dan Mark Walter dilaporkan bersedia menjual saham mereka kepada Clearlake Capital. Kesepakatan yang akan menilai klub sekitar £5 miliar ini berpotensi mengubah total peta kekuasaan di Stamford Bridge, dengan Behdad Eghbali dan José E. Feliciano sebagai pemegang kendali penuh. Kabar ini juga menjadi puncak dari drama internal yang sebenarnya sudah tercium sejak lama.
Jika penjualan itu benar-benar terjadi, Clearlake tidak akan punya pihak lain untuk disalahkan ketika hasil di lapangan tidak sesuai harapan. Boehly, yang selama lima tahun menjabat sebagai ketua sekaligus menjadi wajah publik klub, akan meninggalkan kursi yang ia tempati sejak konsorsiumnya memenangkan lelang Chelsea pada 2022. Aliansi yang terbentuk dalam situasi darurat itu kini berada di ambang perpecahan total.
Boehly dan Walter Siap Lepas Saham
Menurut laporan yang beredar, Boehly dan Walter yang total menguasai 12,8 persen saham Chelsea telah membuka opsi untuk menjual kepemilikan mereka kepada Clearlake Capital. Langkah ini muncul di tengah tekanan hukum yang membayangi Walter, yang tengah diselidiki oleh Departemen Kehakiman AS atas dugaan penipuan pajak. Walter sendiri dikenal sebagai teman lama sekaligus mitra bisnis Boehly, dan keduanya selama ini kerap berada di sisi yang sama dalam berbagai keputusan penting klub.
Walter dipercaya sedang menjual sejumlah aset untuk melunasi pinjaman yang tengah menjadi perhatian otoritas federal. Pekan lalu, ia secara mendadak melepas Los Angeles Lakers kepada Josh Kushner dan Bob Iger dengan nilai US$12,5 miliar atau sekitar £9,2 miliar. Kini, sahamnya di Chelsea berpotensi menjadi aset berikutnya yang ia lepas demi meringankan beban hukumnya.
Di sisi lain, masa jabatan Boehly sebagai ketua Chelsea selama lima tahun akan habis pada akhir musim ini. Menariknya, seorang perwakilan Clearlake dikabarkan sudah siap menggantikan posisinya apabila kesepakatan jual beli saham tersebut benar-benar terealisasi. Ini berarti transisi kepemimpinan di ruang rapat Chelsea bisa berjalan lebih mulus dari dugaan banyak orang.
Akar Krisis Kepemilikan Chelsea
Krisis kepemilikan Chelsea sebenarnya sudah bisa ditebak sejak konsorsium ini terbentuk pada 2022. Saat itu, Roman Abramovich terpaksa menjual klub akibat invasi Rusia ke Ukraina, dan proses lelang cepat yang dijalankan Raine Group mempertemukan sekutu-sekutu yang sebelumnya tidak pernah bekerja sama. Konsorsium Boehly-Clearlake akhirnya keluar sebagai pemenang setelah mengalahkan 11 pesaing serius.
Boehly menjadi sosok yang meyakinkan Mark Walter dan Hansjörg Wyss untuk bergabung sebagai investor minoritas dengan total 12,8 persen saham. Clearlake Capital sendiri memasok 61,6 persen modal dan membawa masuk Eghbali serta Feliciano, dua investor teknologi yang selama ini jarang bersinggungan dengan dunia sepak bola. Berdasarkan kesepakatan awal, Boehly yang mewakili Walter dan Wyss mendapat hak persetujuan akhir pada keputusan-keputusan besar bersama Eghbali dan Feliciano.
Namun seiring berjalannya waktu, Boehly dan Eghbali justru menjadi dua pengambil keputusan dominan dalam operasional sehari-hari klub. Walter, Wyss, dan Feliciano lebih banyak menjadi mitra pasif yang terlindung dari kemarahan suporter dan cemoohan media sosial. Sebelum era kepemilikan ini, Chelsea tidak pernah finis di luar lima besar selama enam musim beruntun; setelah pengambilalihan, rata-rata posisi mereka di liga hanyalah kedelapan, dengan finis terbaik keempat dan terburuk ke-12.
Beberapa sumber menyebut hubungan Boehly dan Eghbali masih bersifat profesional. Namun tanda-tanda keretakan sudah lama bocor ke publik, jauh sebelum kabar penjualan saham pekan ini mencuat. Perbedaan pandangan yang terus dipaksakan dalam satu ruangan yang sama tampaknya menjadi akar dari semua persoalan ini.
Tanda-Tanda Keretakan: Pemecatan Pochettino hingga Wacana Stadion
Salah satu momen yang memperlihatkan ketegangan di antara para pemilik terjadi pada Mei 2024. Saat itu, Boehly menghadiri Qatar Economic Forum dan menegaskan bahwa kesabaran menjadi kunci dari proyek jangka panjang yang sedang mereka bangun. Posisi Chelsea sebenarnya sedang membaik: Mauricio Pochettino baru saja membawa tim ke final Piala EFL, semifinal Piala FA, dan finis keenam di liga setelah awal musim yang buruk. Cole Palmer tampil sebagai bintang baru, Reece James diangkat menjadi kapten, dan Chelsea memenangkan lima laga terakhir mereka.
Namun enam hari kemudian, Pochettino justru dipecat. Keputusan itu diambil setelah para co-sporting director Paul Winstanley dan Laurence Stewart menyusun tinjauan musim setebal 18 halaman. Publik mulai bertanya-tanya apakah ada dua kubu yang saling tarik-menarik dalam menentukan arah klub, dan jawabannya kini semakin jelas.
Petunjuk lain muncul pada Maret tahun lalu, ketika Boehly berbicara kepada Bloomberg mengenai lambatnya rencana pengembangan stadion yang sudah diumumkan empat tahun sebelumnya. “Kami harus berpikir jangka panjang tentang apa yang ingin kami capai,” ujar Boehly saat itu. “Kami punya peluang pengembangan stadion yang besar dan harus kami matangkan. Di situlah kami akan sejalan, atau pada akhirnya memutuskan untuk berpisah.”
Pernyataan itu kini terbaca sebagai sinyal awal dari perpecahan yang akhirnya meletus. Di depan publik, Boehly selalu menegaskan bahwa para pemilik sejalan, tetapi realitas di balik layar jauh dari kata harmonis. Perkataan Boehly tentang kemungkinan “berpisah” itu seakan menjadi ramalan yang sedang terwujud saat ini.
Strategi Besar yang Menuai Kontroversi
Perjalanan kepemilikan ini juga penuh dengan perubahan strategi yang drastis. Pada awal masa kepemimpinannya, Boehly memasang diri sebagai sporting director dan memimpin belanja besar-besaran senilai £250 juta untuk mendatangkan pemain berpengalaman seperti Raheem Sterling dan Pierre-Emerick Aubameyang. Hasilnya justru mengecewakan: Chelsea finis di peringkat 12 dan Boehly akhirnya mundur dari peran tersebut.
Setelah itu, Eghbali mengambil peran yang lebih aktif dan klub melakukan sekitar 70 wawancara untuk membangun struktur sepak bola baru. Hasilnya, Winstanley dan Stewart diangkat sebagai co-sporting director, sementara Joe Shields menjabat sebagai co-director of recruitment. Mereka kemudian mencoba mendefinisikan ulang cara mengelola klub: merekrut pemain muda dan memberikan kontrak yang luar biasa panjang, sebuah model yang membuat banyak kalangan sepak bola tercengang sekaligus penasaran.
Namun model itu tidak langsung membuahkan hasil. Pada 2024, suporter bahkan menempel stiker di sekitar Stamford Bridge yang menggambarkan tiga pemilik klub sebagai badut. Chelsea Supporters’ Trust pun menyebut klub kesayangan mereka sebagai “bahan tertawaan” di mata publik.
Lubang Finansial dan Tekanan UEFA
Belanja besar yang dilakukan Chelsea juga meninggalkan lubang finansial yang dalam. Klub mencatat kerugian sebelum pajak sebesar £262,4 juta pada tahun yang berakhir Juni 2025, sebuah rekor terburuk dalam sejarah Premier League. Padahal, Boehly pernah berjanji setelah pengambilalihan bahwa visi para pemilik adalah “membuat para suporter bangga”.
Untuk mematuhi batasan pengeluaran Premier League, Chelsea bahkan disebut-sebut menjual tim wanita mereka kepada diri sendiri. Namun langkah kontroversial itu tidak menyelamatkan klub dari denda besar akibat melanggar aturan keuangan UEFA, karena badan sepak bola Eropa tersebut tidak mengizinkan hasil penjualan itu dihitung sebagai pendapatan klub.
Meski begitu, ada juga sejumlah sinyal positif. Di bawah arahan Enzo Maresca, Chelsea berhasil lolos ke Liga Champions dan memenangkan Piala Dunia Antarklub, sebuah pencapaian yang sempat membangkitkan optimisme suporter. Sayangnya, momentum itu hilang ketika Maresca hengkang secara mendadak pada Januari, dan Chelsea jatuh dari kandidat kuat Liga Champions menjadi finis di peringkat 10.
Kini, Xabi Alonso hadir membawa harapan baru dengan strategi yang kembali disesuaikan ke arah perekrutan pemain yang lebih matang dan teruji. Namun drama di ruang rapat tetap menjadi bayang-bayang yang tidak bisa diabaikan. Selama krisis kepemilikan Chelsea belum tuntas, sehebat apa pun strategi di lapangan, stabilitas klub tetap akan dipertanyakan.
Kontrol Penuh di Tangan Clearlake
Dalam beberapa tahun terakhir, kedua kubu sebenarnya sudah saling mencoba membeli saham satu sama lain. Namun tampaknya tangan Boehly dan Walter kini terpaksa untuk mengambil keputusan. Jika kesepakatan penjualan benar-benar terjadi, Eghbali dan Feliciano akan memegang kendali penuh atas Chelsea.
Ini berarti mereka berdua juga memikul tanggung jawab penuh, tanpa Boehly untuk disalahkan dan tanpa mitra minoritas yang bisa dijadikan kambing hitam. Semua keputusan besar, mulai dari bursa transfer hingga rencana pembangunan stadion, akan berada di pundak mereka. Kondisi ini bisa menjadi berkah karena menciptakan kejelasan visi, tetapi juga bisa menjadi kutukan karena tidak ada lagi ruang untuk saling melimpahkan kesalahan.
Bagi suporter Chelsea, kabar ini mungkin disambut dengan perasaan campur aduk. Rasa lelah akibat drama internal yang berkepanjangan mungkin akan segera berakhir, tetapi kekhawatiran tentang arah masa depan klub tetap mengambang. Yang jelas, ketika Boehly pergi dan Clearlake akhirnya sendirian, semua mata akan tertuju pada Eghbali dan Feliciano untuk membuktikan bahwa mereka memang layak memegang kendali penuh.
