Manchester City Dinyatakan Bersalah, Al Mubarak Buka Suara
Manchester City dinyatakan bersalah pada hampir seluruh tuduhan pelanggaran aturan keuangan Premier League, dan untuk pertama kalinya sejak putusan itu mencuat, Ketua Manchester City Khaldoon Al Mubarak angkat bicara. Ia menegaskan bahwa “tidak ada yang berubah” dan menyatakan bahwa keyakinan serta tekad klub untuk membuktikan diri tidak bersalah tetap sama kuatnya seperti ketika kasus ini mula-mula bergulir. Pernyataan tersebut menjadi respons resmi pertama dari pihak klub setelah kabar vonis tersebar luas.
Kabar bahwa City dinyatakan bersalah pada semua tuduhan kecuali satu—dari total 115 dakwaan yang diajukan Premier League pada Februari 2023—pertama kali mencuat pada Jumat. Tuduhan-tuduhan itu sejak awal selalu dibantah keras oleh klub. Al Mubarak baru memberikan pernyataan pada Sabtu sore melalui media sosial, sehari setelah klub memilih untuk tidak berkomentar. Sikapnya pun menjadi gambaran arah pikir manajemen di tengah situasi yang masih bergulir dan belum sepenuhnya tuntas.
Al Mubarak Buka Suara Setelah Manchester City Dinyatakan Bersalah
Dalam pernyataannya lewat media sosial, Al Mubarak menyoroti bahwa di sekeliling klub kini banyak “kebisingan” dan ada orang-orang yang buru-buru menarik kesimpulan sendiri. Kendati begitu, ia menegaskan bahwa posisi klub tidak berubah sedikit pun. Ia mengingatkan bahwa Manchester City pernah menghadapi berbagai tantangan bersama-sama dan selalu berhasil melewatinya.
Ia juga menyebut ada pihak-pihak yang ingin merongrong momentum klub, namun menegaskan bahwa City tidak akan memberi mereka kesempatan itu. Menurutnya, semangat untuk membuktikan bahwa klub tidak bersalah tetap sekuat saat kasus ini dimulai. Pernyataan ini menandakan bahwa manajemen memilih untuk tidak mengubah sikapnya di depan publik, meski vonis telah keluar.
Al Mubarak turut mengalihkan perhatian pada agenda pertandingan yang menanti setelah jeda internasional. Ia menyebut laga tandang ke Anfield dalam dua pekan ke depan, lalu pertemuan menjamu Paris Saint-Germain di Liga Champions di Etihad Stadium. Baginya, momen-momen itu menjadi kesempatan untuk merayakan kekuatan keluarga besar Manchester City, sekaligus ajang mengucapkan terima kasih atas dukungan yang terus mengalir.
Kronologi dan Latar Belakang 115 Tuduhan
Kasus ini bermula ketika Premier League mengajukan 115 tuduhan pelanggaran aturan keuangan kepada Manchester City pada Februari 2023. Sejak awal, klub dengan tegas membantah seluruh dakwaan tersebut. Tuduhan inilah yang pada Jumat lalu berujung pada putusan yang menyatakan City bersalah pada semua tuduhan kecuali satu.
Dalam perjalanannya, klub menyatakan telah menjalani proses hukum selama delapan tahun dengan penuh kepatuhan. Menurut pernyataan resmi yang dirilis Jumat, City menghormati proses yang semestinya dengan asumsi bahwa dewan dan eksekutif Premier League akan bertindak sebagai regulator yang independen, tidak memihak, adil, serta bebas dari pengaruh partisan. Klub juga menegaskan bahwa proses Premier League masih berjalan, dengan sejumlah elemen penting yang belum selesai dan terikat aturan kerahasiaan yang ketat.
Dalam pernyataan pada Februari 2023, Manchester City menyebut memiliki “kumpulan bukti yang menyeluruh dan tak terbantahkan” bahwa mereka tidak bersalah. Sikap itu dipertahankan hingga kini, sejalan dengan pernyataan terbaru klub yang menyatakan posisinya tetap konsisten dengan pernyataan tersebut. Dengan begitu, sikap resmi klub belum berubah meski putusan telah dijatuhkan.
Maresca dan Ragam Reaksi Publik
Dari sisi tim, manajer City Enzo Maresca sempat mengunggah pesan singkat bernada misterius di media sosial yang berbunyi “I know nothing” atau “aku tidak tahu apa-apa”. Pada Sabtu pagi, ia dihubungi untuk memberi komentar soal apakah ia mencari penegasan dari klub terkait sikap tidak bersalah yang terus dipertahankan. Perwakilannya kemudian mengirimkan tangkapan layar berisi kutipan dari filsuf Yunani, Socrates, yang ia unggah di Instagram.
Kutipan tersebut berbunyi, “Satu-satunya yang aku tahu adalah bahwa aku tidak tahu apa-apa.” Maresca juga menuliskan ajakan untuk meluangkan waktu bernapas, menganalisis, dan belajar. Pesan singkat itu menambah nuansa ketidakpastian di tengah situasi yang belum sepenuhnya jelas bagi tim.
Sementara itu, respons publik terhadap hasil investigasi Premier League justru kontras satu sama lain. Noel Gallagher, personel Oasis yang lama menjadi pendukung City, mengaku kaget dengan kabar tersebut karena klub selama ini meyakinkan bahwa mereka menolak semua tuduhan dengan tegas. Dalam podcast Let Me Talk, ia mengaku terkejut sekaligus sedih, terutama untuk para penggemar dan pemain.
Gallagher menegaskan bahwa fokus para pendukung selalu ada di lapangan dan apa yang mereka saksikan langsung. Menurutnya, apa pun yang terjadi di ruang rapat direksi tidak ada hubungannya dengan para suporter maupun pemain, dan para pemain memenangi pertandingan serta gelar di atas lapangan. Ketika ditanya apakah hal ini mengubah konteks momen seperti gol penentu gelar Sergio Agüero pada 2012, ia menyatakan tahu apa yang ia saksikan dan rasakan, meski mengakui hal itu bisa saja dianggap menodai pencapaian tersebut di mata orang lain di Inggris.
Seruan Proses Banding Cepat dan Wacana Sanksi
David Bernstein, yang pernah menjadi ketua City pada 1998-2003, mengaku sangat terpukul dan kaget dengan kabar itu. Kepada Times Radio, ia menyampaikan bahwa ia berbicara bukan hanya sebagai mantan ketua, tetapi juga sebagai penggemar Manchester City selama 70 tahun. Ia merasa sedih melihat semua hal yang dibangunnya justru tercoreng seperti ini, dan paling prihatin terhadap para pendukung setia yang tetap bersama klub dalam kondisi apa pun.
Terkait sanksi, Bernstein menekankan bahwa waktu menjadi hal yang krusial. Menurutnya, proses banding harus diselesaikan dengan cepat karena klub saat ini bermain dengan “awan gelap” di atas kepala mereka, dan hal itu tidak berkelanjutan. Ia memperingatkan agar proses banding tidak berlarut-larut bertahun-tahun karena bisa menjadi bencana, bukan hanya bagi kasus ini tetapi juga bagi sepak bola Inggris secara umum. Ia juga menilai bila nantinya klub dinyatakan bersalah atas 115 tuduhan setelah banding, hukuman yang dihadapi akan sangat berat, dan sanksi finansial saja tidak cukup—perlu langkah yang lebih drastis, meski hal itu tidak menyenangkan.
Dari kalangan pemerintah, Menteri Kebudayaan Lisa Nandy menilai kasus ini membuat tidak nyaman. Ia menyebut sebagian besar penggemar sepak bola merasa ini bukan momen yang baik bagi sepak bola secara keseluruhan, dan para pendukung Manchester City tentu cemas dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Nandy mengingatkan bahwa ini adalah investigasi yang sudah berlangsung sangat lama, berakar pada dugaan yang bermula sejak 2009, sehingga para penggemar perlu tahu bahwa aturan diterapkan secara adil dan konsisten serta bahwa keputusan yang tepat telah diambil. Ia berharap persoalan ini bisa diselesaikan secepat mungkin.
Senada dengan itu, Nigel Huddleston, yang menjabat sebagai menteri bayangan bidang kebudayaan hingga bulan lalu, menyatakan lewat media sosial bahwa apa pun langkah berikutnya, prosesnya harus dijalankan secara dipercepat dan lebih transparan. Jika tidak, hal itu berisiko menimbulkan kerusakan lebih lanjut pada reputasi dan integritas sepak bola Inggris, sekaligus kecemasan yang tidak perlu bagi jutaan penggemar.
Dampak dan Apa yang Menanti Berikutnya
Vonis ini menempatkan Manchester City pada posisi yang belum pernah terjadi sebelumnya, yakni harus mempertahankan dalil tidak bersalah sambil menghadapi proses lanjutan yang belum selesai. Pihak klub menegaskan bahwa proses Premier League masih berjalan dengan sejumlah elemen penting yang belum tuntas dan terikat kerahasiaan. Artinya, putusan yang keluar pada Jumat bukanlah titik akhir, melainkan bagian dari rangkaian panjang yang masih menyisakan banyak babak.
Seruan agar proses banding berjalan cepat dan transparan memperlihatkan bahwa yang dipertaruhkan bukan hanya nasib satu klub. Bernstein secara eksplisit menyebut agar penanganan kasus ini tidak mengorbankan sepak bola Inggris secara keseluruhan, terutama pada reputasi dan integritas kompetisi. Huddleston pun menekankan hal serupa. Dengan demikian, publik menuntut kejelasan agar ketidakpastian tidak berlarut-larut dan merugikan banyak pihak.
Bagi para pendukung, situasi ini menimbulkan campuran emosi: antara kesetiaan pada klub yang telah lama mereka dukung dan kekecewaan terhadap kabar yang beredar. Gallagher, misalnya, tetap memisahkan apa yang terjadi di ruang rapat direksi dengan apa yang terjadi di lapangan. Sementara Nandy mengakui bahwa penggemar City cemas menantikan kelanjutan kasus. Perbedaan sudut pandang ini menunjukkan bahwa dampak kasus jauh melampaui dunia manajemen dan menyentuh perasaan para suporter.
Ke depan, perhatian akan tertuju pada langkah banding dan bentuk sanksi yang mungkin dijatuhkan. Bila nantinya klub dinyatakan bersalah atas seluruh 115 tuduhan, seperti dikhawatirkan Bernstein, hukuman yang dihadapi bisa sangat berat, bahkan melampaui sanksi finansial. Namun semua itu masih bergantung pada proses yang belum selesai, dan pihak klub tetap pada posisinya bahwa mereka memiliki bukti untuk membuktikan diri tidak bersalah.
Pada akhirnya, pesan “tidak ada yang berubah” dari Al Mubarak menjadi benang merah yang menghubungkan sikap klub dari awal hingga kini. Manchester City memilih untuk tetap tenang, fokus pada pertandingan yang menanti, dan mempertahankan dalil bahwa mereka tidak bersalah. Sejauh mana sikap itu bisa bertahan akan sangat bergantung pada babak-babak berikutnya dari proses yang masih berjalan.
