|

Messi Pensiun dari Timnas Argentina Usai Piala Dunia

Lionel Messi akan mengenakan seragam timnas Argentina untuk terakhir kalinya pada laga uji coba melawan Benin di Buenos Aires pekan ini. Duel tersebut diposisikan sebagai panggung perpisahan bagi pemain yang oleh banyak pihak dianggap sebagai pesepak bola terhebat sepanjang sejarah. Messi menerima undangan tampil sekali lagi sebagai bentuk perayaan, setelah ia memutuskan pensiun dari sepak bola internasional selepas final Piala Dunia.

Momentum ini terasa berbeda dari kepulangan-kepulangan Messi sebelumnya. Jika dulu ia selalu datang dengan beban kewajiban membawa Argentina meraih gelar, kini ia pulang sebagai sosok yang sudah menuntaskan segalanya. Laga perpisahan itu sekaligus menutup satu babak panjang dalam sejarah sepak bola Argentina, sebuah era yang dipenuhi luka lama sebelum akhirnya berbuah kesuksesan besar.

Laga Perpisahan Messi di Buenos Aires

Pertandingan melawan Benin menjadi kesempatan terakhir Messi tampil di hadapan pendukungnya sendiri. Berbeda dari laga-laga internasional sebelumnya, duel ini tidak lagi menentukan apa pun secara kompetitif, melainkan dirancang sebagai ajang perayaan. Pihak timnas Argentina secara khusus mengundangnya kembali agar ia bisa mengucapkan selamat tinggal di depan publik Buenos Aires, bukan di laga tandang yang jauh dari sorotan.

Setelah laga Selasa nanti, jumlah penampilan Messi bersama timnas Argentina menyentuh 208 caps, terbanyak dibanding pemain mana pun yang pernah membela negara itu. Ia juga merupakan pencetak gol terbanyak Argentina dengan 125 gol. Angka-angka itu menegaskan bahwa perpisahan ini bukan sekadar seremoni, melainkan penutup dari karier internasional yang luar biasa panjang dan produktif.

Bagi Argentina, kehadiran Messi di laga terakhirnya memberi kesempatan untuk merayakan apa yang telah dicapai bersama. Selama bertahun-tahun, hubungan Messi dengan timnasnya sempat penuh ketegangan dan kekecewaan. Kini, perpisahan itu berlangsung dalam suasana yang jauh lebih hangat, karena hampir semua target besar sudah diraih.

Messi Pensiun dari Timnas Argentina, Ini Kronologinya

Keputusan Messi pensiun dari timnas Argentina sebenarnya bukan hal baru. Pada 2016, setelah menelan kekalahan menyakitkan di final Copa América Centenario dari Chile, ia menyatakan bahwa perjalanannya bersama tim nasional telah berakhir. Saat itu ia mengaku sedang berada di masa yang berat dan menyebut bahwa ia telah berusaha keras berkali-kali, tetapi tetap tidak mampu meraih gelar yang diidamkan. Ia pun menilai keputusan itu sebagai yang terbaik, baik bagi dirinya maupun bagi banyak orang yang menginginkannya.

Beruntung, sekitar enam minggu setelah pernyataan itu, setelah muncul kampanye nasional yang mendesaknya berubah pikiran, Messi memastikan tidak jadi mundur. Keputusan tersebut membuka jalan bagi sepuluh tahun tambahan bersama timnas Argentina. Periode itu ternyata menjadi masa paling gemilang dalam sejarah modern sepak bola Argentina.

Sebelum itu, perjalanan Messi bersama Argentina memang kerap kandas di partai puncak. Argentina kalah di final Copa América 2007, 2015, dan 2016, serta takluk dari Jerman pada final Piala Dunia 2014. Rentang 16 tahun tanpa gelar besar itu kini terasa seperti kenyataan alternatif, mengingat apa yang sudah diraih Argentina dalam lima tahun terakhir.

Bahkan setelah Messi berubah pikiran pada 2016, tidak ada jaminan bahwa kesuksesan akan segera datang. Partisipasi Argentina di Piala Dunia 2018 berjalan buruk, mulai dari penampilan yang mengecewakan di babak kualifikasi hingga munculnya laporan soal pembangkangan pemain setelah kekalahan 3-0 dari Kroasia di fase grup. Mereka akhirnya tersingkir di babak 16 besar oleh Prancis, meski sempat memberikan perlawanan ketat kepada tim yang kelak menjadi juara itu.

Peran Lionel Scaloni di Balik Kesuksesan Messi

Setelah Piala Dunia 2018, Messi kembali mengambil jeda dari tim nasional. Masa itu menjadi periode sulit bagi Argentina, yang berpisah dengan Jorge Sampaoli dan menunjuk asistennya sebagai pelatih pengganti. Keputusan tersebut tidak populer, dan Diego Maradona mengkritiknya dengan gaya khasnya. Maradona menyebut pengganti Sampaoli sebagai pria yang baik, tetapi menurutnya bahkan tidak bisa mengatur lalu lintas, lalu mempertanyakan bagaimana mungkin tim Argentina diserahkan kepadanya.

Yang dimaksud Maradona adalah Lionel Scaloni. Bersama Pablo Aimar, Scaloni disebut cukup meyakinkan Messi bahwa absennya tidak perlu bersifat permanen. Tujuh tahun kemudian, ia menjadi satu-satunya pelatih Argentina yang berhasil menjuarai Piala Dunia sekaligus beberapa gelar Copa América, dan Messi menjadi elemen penting dalam semua kesuksesan tersebut.

Scaloni juga menjadi pelatih yang paling sering menangani Messi, yakni 79 caps, dan angka itu terasa simbolis. Ia berhasil membangun tim yang memaksimalkan pengaruh Messi di sepertiga akhir lapangan tanpa menuntut sang kapten bekerja keras dalam bertahan. Pemain lain mengambil alih beban itu, dan mereka tampak menikmati pekerjaan kotor tersebut seolah merupakan kehormatan bisa membantu Messi fokus pada hal terbaik yang bisa ia lakukan.

Gambaran itu diperkuat oleh foto-foto para pemain Argentina saat berjalan keluar untuk pemanasan di Piala Dunia 2026, yang tampak seperti Messi memimpin milisi pribadinya. Kesuksesan mereka juga bukan kebetulan, karena Argentina meraih dua gelar Copa América berturut-turut di kedua sisi kejayaan Qatar 2022, serta melaju hingga final Piala Dunia musim panas ini.

Deretan Rekor Messi di Piala Dunia

Warisan Messi di Piala Dunia tercermin dari deretan rekor yang ia torehkan sepanjang kariernya. Sebagian besar catatan itu justru lahir pada edisi-edisi terakhir, ketika usianya tidak lagi muda. Berikut sejumlah rekor yang menempel pada namanya:

  • 34 pertandingan di putaran final Piala Dunia putra, terbanyak sepanjang sejarah.
  • Tampil di enam edisi berbeda, sebuah rekor yang ia bagi bersama pemain lain.
  • 33 kontribusi gol di Piala Dunia, rekor turnamen, dengan 22 di antaranya datang pada edisi 2022 dan 2026.
  • 21 gol Piala Dunia sepanjang karier, hanya terpaut satu gol dari Kylian Mbappé yang mengoleksi 22.
  • Mencetak gol dalam sembilan laga Piala Dunia berturut-turut, rekor turnamen yang membentang sejak kampanye 2022 di Qatar.
  • Pemain pertama yang menjadi starter di tiga final Piala Dunia putra (2014, 2022, dan 2026), dengan Cafu sebagai satu-satunya pemain lain yang pernah tampil di tiga final.

Pada edisi kali ini, Messi sempat memecahkan rekor gol terbanyak di putaran final Piala Dunia ketika mencapai 18 gol lewat dua gol ke gawang Austria, melewati Miroslav Klose. Namun, total akhirnya berhenti di 21 gol, satu gol lebih sedikit dari Mbappé. Ia juga mencatatkan 12 kontribusi gol di Amerika Utara, hanya kalah dari Mbappé (14), sementara 10 kontribusinya di Qatar empat tahun lalu menjadi yang terbanyak bersama di turnamen itu.

Qatar 2022 tetap menjadi momen paling signifikan. Gelar itu merampas senjata utama para pengkritiknya, terutama mereka yang menilai keberhasilan Copa América 2021 belum cukup karena Pelé dan Maradona sudah menjuarai Piala Dunia. Messi akhirnya menjawab keraguan itu pada 2022 sekaligus berperan sebagai inspirasi utama Argentina, dan pencapaian tersebut membuat warisannya nyaris tak bisa diganggu gugat.

Dampak Perpisahan Messi bagi Argentina

Besarnya pengaruh Scaloni tidak boleh diremehkan. Sejumlah pelatih Argentina sebelumnya gagal mempersembahkan gelar internasional bersama Messi, dan sebagian dari mereka bahkan menangani skuad dengan talenta individual lebih banyak. Perbedaan itu menunjukkan bahwa kesuksesan Argentina bukan semata soal kualitas pemain, melainkan juga soal cara tim dibangun dan disatukan.

Dengan latar belakang itu, laga Selasa menjadi pengingat bahwa Argentina sedang memasuki era baru. Era tersebut sedikit dibayangi ketidakpastian soal apa yang mampu mereka capai tanpa Messi, karena sang ikon tetap menjadi pemain terbaik mereka hingga pertandingan terakhirnya. Pertanyaannya, apakah Argentina bisa beradaptasi tanpa kreativitas dan ketajaman Messi, ataukah etos kerja kolektif dan kekompakan yang sudah mereka bangun mampu menopang tim?

Untuk sementara, jawabannya belum bisa dipastikan. Yang jelas, kepergian Messi meninggalkan ruang besar yang harus diisi oleh generasi berikutnya. Argentina tidak hanya kehilangan seorang pencetak gol dan pengumpan, tetapi juga sosok yang selama bertahun-tahun menjadi pusat gravitasi seluruh permainan tim.

Konteks Lebih Luas dan Warisan yang Sulit Diulang

Argentina sudah pernah memenangi lotre sekali sebelum Messi, yakni ketika Maradona muncul dan membawa mereka menjuarai Piala Dunia 1986. Mendapatkan pemain sekaliber itu dua kali dalam satu generasi merupakan keberuntungan luar biasa. Sangat mungkin butuh waktu lama sebelum Argentina menemukan emas untuk ketiga kalinya.

Karena itu, perayaan atas apa yang dicapai bersama Messi bukan sekadar nostalgia. Ada kesadaran bahwa capaian lima tahun terakhir tidak dijamin akan berulang dalam waktu dekat. Kegagalan di final Piala Dunia 2026 memang terasa menyakitkan, tetapi itu tidak mengurangi makna dari seluruh perjalanan yang sudah dilalui bersama.

Yang tersisa bagi pendukung Argentina adalah kenangan yang akan bertahan seumur hidup. Dari kekecewaan bertahun-tahun, keputusan pensiun pada 2016, kebangkitan di bawah Scaloni, hingga gelar juara dunia pada 2022. Semua itu menjadi bagian dari warisan yang jauh melampaui angka dan trofi.

Penutup

Perjalanan Messi bersama timnas Argentina berakhir dengan cara yang layak bagi seorang juara. Setelah 208 caps dan 125 gol, ia menutup karier internasionalnya dengan koleksi gelar yang lengkap serta deretan rekor yang sulit disamai. Laga melawan Benin di Buenos Aires menjadi titik akhir dari sebuah kisah panjang yang pernah nyaris berujung perpisahan pahit pada 2016.

Kini Argentina harus belajar hidup tanpa Messi, sementara Messi sendiri bisa meninggalkan panggung internasional dengan kepala tegak. Ia sudah membuktikan segalanya dan tidak lagi punya utang prestasi kepada siapa pun. Artikel ini disusun berdasarkan analisis Opta Analyst.

Similar Posts