|

Inggris Hancurkan Kroasia 7-0, Modric: Saya Merasa Malu

Inggris hancurkan Kroasia 7-0 dalam sebuah pertandingan yang berlangsung dengan tribun tertutup bagi penonton umum. Dari 6.403 orang yang hadir di stadion, mayoritas adalah anak-anak lokal yang masuk secara gratis. Alih-alih menyaksikan duel yang kompetitif, mereka justru menjadi saksi sebuah pembantaian sepak bola yang nyaris tanpa perlawanan sama sekali.

Kemenangan tersebut menjadi sorotan bukan hanya karena skornya, tetapi juga karena siapa yang menontonnya. Anak-anak itu mendapat “hadiah” atas ulah penonton dewasa dari kalangan pendukung Kroasia pada laga-laga sebelumnya, dan apa yang mereka saksikan berubah menjadi salah satu hari terberat dalam hidup mereka. Bagi Inggris, hasil ini menjadi modal menjelang pertemuan dengan Spanyol, sang juara dunia, pada Selasa malam.

Inggris Hancurkan Kroasia 7-0 di Depan Ribuan Anak

Bagi tim produksi televisi, pertandingan ini ibarat pesta panen gambar. Setiap kali kamera menyorot ke arah tribun, selalu ada anak kecil yang menangis tersedu-sedu, sehingga sutradara siaran punya terlalu banyak pilihan momen untuk ditampilkan. Tontonan itu menciptakan suasana yang ganjil: sebuah tim nasional dibongkar habis-habisan di depan penonton yang biasanya lebih akrab dengan pertunjukan hiburan anak-anak.

Luka Modric tidak berusaha mencari pembenaran apa pun setelah laga usai. Gelandang veteran Kroasia itu mengaku kesulitan menemukan penjelasan atas penampilan timnya yang miskin duel, minim pelanggaran, tanpa agresivitas, dan tanpa kekompakan. Menurutnya, Kroasia tampil seperti kehilangan empat atau lima pemain di lapangan.

Modric bahkan menyebut dirinya merasa malu setelah pertandingan, sesuatu yang ia akui belum pernah ia rasakan sepanjang 20 tahun kariernya bersama tim nasional. Ia menilai hasil ini bukan sekadar kekalahan biasa, melainkan pengrusakan reputasi yang telah dibangun Kroasia selama bertahun-tahun. Dalam kalimatnya, malam itu adalah malam yang katastrofik.

Sementara Kroasia lemah di hampir semua lini, Inggris justru bersinar di semua departemen. Banyak pengamat langsung kehilangan kendali emosi setelah menyaksikan tim kesayangan mereka membongkar lawan yang selama ini dikenal menyulitkan mereka. Kroasia pada laga ini tampil tanpa kebanggaan dan semangat juang, hal yang biasanya selalu melekat pada mereka di pertandingan besar.

Latar Belakang: Kroasia yang Dulu Kerap Menyakitkan Inggris

Hasil 7-0 ini terasa istimewa bagi Inggris karena Kroasia bukan lawan sembarangan. Dalam beberapa tahun terakhir, Kroasia berulang kali menjadi batu sandungan, termasuk saat menghentikan langkah Inggris di semifinal Piala Dunia 2018. Kekalahan-kekalahan itu meninggalkan bekas yang dalam, baik bagi para pemain maupun pendukung.

Karena itulah, kemenangan telak ini terasa seperti pembalasan yang tertunda. Namun konteksnya juga perlu dicatat: Kroasia yang dihancurkan malam itu adalah Kroasia yang tengah menua dan jelas sedang menurun. Sebagian besar pemain inti mereka sudah melewati puncak karier, sementara regenerasi belum berjalan mulus.

Di sisi lain, Inggris di bawah asuhan Thomas Tuchel tampil dengan kedalaman skuad yang mengesankan. Mereka bisa menekan tinggi, menguasai bola dengan sabar, dan menuntaskan peluang dengan efisien. Kombinasi itu membuat Kroasia tampak seperti tim yang tertinggal satu generasi.

Tuchel dan Luka Lama yang Belum Sembuh

Tuchel menyebut penampilan dominan ini sebagai cara untuk melangkah maju. Ia mengakui timnya akan selalu membawa bekas luka dan rasa sakit dari masa lalu, tetapi menegaskan bahwa cara terbaik untuk bangkit adalah dengan kemenangan seperti ini. Pernyataan itu ia sampaikan sambil menyinggung sebuah laga semifinal di Atlanta yang masih lekat di ingatan publik Inggris.

Namun tidak semua pihak sepakat bahwa hasil ini cukup untuk menyembuhkan luka tersebut. Football Daily menilai, dengan mempertimbangkan besarnya taruhan, kemenangan dramatis Inggris atas Meksiko di turnamen yang mereka juluki “Geopolitics World Cup” justru lebih mengesankan daripada pesta gol melawan Kroasia.

Bagi sebagian pendukung Inggris, bekas luka itu masih terasa seperti luka terbuka yang belum mengering. Mereka juga dipaksa untuk terus menaruh kepercayaan pada Tuchel, meski keinginan sang pelatih asal Jerman untuk mengubur masa lalu bisa dipahami. Menghajar tim yang sedang menurun saja dinilai belum cukup untuk menuntaskan proses penyembuhan itu.

Alex Scott Cedera, Absen hingga Dua Bulan

Kabar buruk datang dari sisi skuad Inggris. Gelandang Bournemouth, Alex Scott, memperparah cedera paha yang sudah ia bawa sebelum pertandingan melawan Kroasia. Ia kini meninggalkan pemusatan latihan tim nasional dan diperkirakan absen sekitar dua bulan.

Tuchel mengaku sangat sedih dengan kondisi tersebut. Ia menjelaskan bahwa Scott berlatih penuh sebelum laga, bahkan melakukan sesi tambahan setelah latihan, dan seluruh pihak termasuk tim medis memberi lampu hijau. Bahkan sebelum menjalani pemindaian, pemain itu dikatakan tidak merasakan keluhan, sehingga situasinya dianggap aneh. Tuchel menegaskan tidak ada risiko yang sengaja diambil dari pihaknya.

Meski demikian, kejadian ini bukan pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir Tuchel dan stafnya dinilai terlalu berhati-hati dalam mengambil keputusan, dengan konsekuensi yang tidak kecil. Karena Scott bermain untuk Bournemouth, media bahkan menyelipkan gurauan bahwa Tuchel sebaiknya menjauhi kawasan Sungai Bourne dan Stour agar tidak menambah kekecewaan warga setempat.

Dampak bagi Inggris, Kroasia, dan Peta Persaingan

Untuk Inggris, kemenangan ini memperkuat posisi Tuchel sekaligus memberi kepercayaan diri menjelang ujian yang jauh lebih berat melawan Spanyol. Pertemuan dengan juara dunia itu akan menjadi tolok ukur sesungguhnya, apakah dominasi atas Kroasia merupakan tanda kebangkitan atau sekadar hasil dari lawan yang sedang lemah.

Bagi Kroasia, malam itu bisa menjadi titik balik yang pahit. Pernyataan Modric menunjukkan bahwa masalahnya bukan sekadar teknik atau taktik, melainkan juga mental dan kebersamaan yang hilang. Saat pemain paling senior sekaligus paling dihormati di ruang ganti mengaku malu, pertanyaan besar tentang regenerasi dan kepemimpinan baru akan segera menyusul.

Dari sisi industri, laga ini juga menghadirkan diskusi menarik tentang kebijakan tiket. Kehadiran anak-anak sebagai penonton tunggal menciptakan atmosfer berbeda, sekaligus memunculkan perdebatan soal hukuman bagi pendukung dewasa. Sebagian pihak menilai hukuman kolektif semacam ini justru menghukum pihak yang paling tidak bersalah.

Konteks Lebih Luas: Talenta Muda dan Sorotan Lain

Pekan ini juga menandai edisi ke-13 dari seri Next Generation, yang membahas 20 talenta muda terbaik di Premier League. Daftar tersebut menjadi pengingat bahwa regenerasi pemain berjalan cepat, dan tim-tim yang gagal berbenah seperti Kroasia berisiko tertinggal jauh dari pesaingnya.

Sorotan lain datang dari ajang Nations League, dengan laga-laga seperti Irlandia Utara melawan Georgia dan Belgia melawan Prancis yang mendapatkan liputan langsung. Di luar sepak bola, kapten tim Asian Games Korea Selatan, Lee Gi-hyuk, sempat membuat heboh dengan pernyataannya bahwa ia tidak akan menjalani wajib militer setelah negaranya menang 1-0 atas Jepang. Pemerintah Korea Selatan memang memberi pengecualian bagi atlet peraih medali emas di ajang tersebut, tetapi ucapannya menuai kritik keras hingga ia akhirnya menyampaikan permintaan maaf resmi.

Ada pula gurauan dari kolom surat pembaca soal pertandingan NFL di London, di mana tim “tuan rumah” selalu kesulitan menang di Tottenham. Sementara itu, seorang pembaca mengusulkan agar kebijakan tiket gratis untuk anak-anak ditiru Tottenham Hotspur Stadium agar suasana stadion lebih hidup. Pembaca lain menyoroti hal yang lebih menarik: ketika bermain di depan penonton anak-anak, para pemain dewasa tampak enggan melakukan gulat sepak pojok atau drama berlebihan.

Rangkaian kejadian ini menunjukkan bahwa sepak bola selalu menyimpan lapisan cerita di balik skor akhir. Hasil 7-0 bukan hanya angka, melainkan cerminan dari masalah mental Kroasia, tekanan yang masih membebani Inggris, hingga diskusi soal siapa yang sebenarnya pantas menonton pertandingan.

Yang jelas, Inggris mendapatkan modal berharga menjelang pertemuan dengan Spanyol. Namun sepanjang mereka belum mampu membuktikan diri melawan tim sekelas juara dunia, luka lama yang dibicarakan Tuchel akan tetap terbuka, dan pesta gol atas Kroasia hanya akan dikenang sebagai kemenangan yang manis tetapi belum tuntas.

Similar Posts