|

Sanksi Manchester City: Gelar yang Pantas Dikosongkan

Kekalahan Sunderland dari Manchester City di final Piala Liga 2014 kini terasa berbeda maknanya. Saat itu Sunderland menutup babak pertama dengan keunggulan 1-0, sebelum Yaya Touré menyamakan kedudukan lewat tendangan jarak 30 yard sekitar sepuluh menit setelah jeda, dan City mengakhiri laga dengan kemenangan 3-1. Belakangan, laporan komisi independen mengungkap bahwa pada periode tersebut City sedang menjalani praktik kecurangan yang berlangsung lama dan disusun secara terencana. Di titik inilah perdebatan soal sanksi Manchester City kembali mencuat, terutama menyangkut gelar-gelar yang mereka raih selama bertahun-tahun.

Laporan komisi itu merujuk pada sejumlah pembayaran yang tidak dicatat di dalam kontrak kerja, melainkan dibukukan melalui perjanjian konsultasi. Sebelumnya, bocoran Der Spiegel menyebut Touré menerima pembayaran lewat dua kontrak sekaligus, cara yang diduga dipakai untuk menyamarkan seberapa besar sebenarnya belanja klub. Rincian teknisnya memang disimpan di bagian lampiran laporan, tetapi implikasinya jauh lebih luas: prestasi yang dibangun di atas aturan yang dilanggar membuat sejumlah trofi City pada rentang 2009-2018 layak dipertanyakan.

Apa yang Terjadi di Final Piala Liga 2014

Laga final 2014 berjalan seperti pertandingan biasa di mata publik saat itu. Sunderland lebih dulu memimpin, lalu Touré menyamakan skor dengan penyelesaian yang terlihat santai namun brilian dari jarak 30 yard. City kemudian berbalik menang 3-1 dan mengangkat trofi, sementara tidak ada yang tahu bahwa di belakang layar klub tengah menjalankan skema keuangan yang menyimpang dari regulasi.

Yang membuat kisah ini getir adalah hadiah yang hilang di sisi Sunderland. Andai mereka mampu mempertahankan keunggulan, klub itu bukan hanya mengakhiri penantian trofi besar selama 41 tahun, tetapi juga mengamankan tiket ke Europa League musim berikutnya. Dua hal itu bukan pencapaian kecil bagi klub yang sudah lama puasa gelar.

Tentu, tidak ada yang bisa memastikan bagaimana musim berikutnya akan berjalan. Beban tambahan dari jadwal Eropa berpotensi menguras skuad dan malah berujung degradasi pada 2015. Namun skenario sebaliknya juga masuk akal: eksposur di kompetisi Eropa dan gelombang optimisme karena trofi tak terduga bisa memberi Sunderland konsolidasi di Premier League, stabilitas, bahkan kualifikasi Eropa secara berkala. Faktanya, musim 2015 berjalan dengan Gus Poyet dipecat di tengah jalan dan Sunderland bertahan berkat kebangkitan singkat di bawah Dick Advocaat.

Siapa Saja yang Merasa Dirugikan

Pertanyaan apakah Sunderland pantas merasa dicurangi jawabannya jelas: ya. Perasaan itu sama dengan mereka yang finis kedua di belakang Lance Armstrong, atau Liverpool dan Arsenal yang kalah di final Piala Liga 2016 dan 2018, atau Stoke di final Piala FA 2011. Hal serupa berlaku bagi Manchester United pada gelar Premier League 2012 dan 2018, serta Liverpool pada 2014.

Cakupannya bahkan lebih lebar dari daftar itu. Setiap klub yang berlaga di kompetisi yang sama dengan City antara 2009 dan 2018 pada dasarnya berada dalam posisi yang dirugikan, karena mereka bersaing dengan aturan yang sama sementara salah satu pesaingnya tidak.

Meski begitu, ada dua pertanyaan berbeda yang sering tercampur. Pertama, apakah rival merasa dicurangi — dan jawabannya ya. Kedua, apakah trofi 2014 itu harus diambil dari City lalu diberikan kepada Sunderland — dan jawaban atas yang kedua jauh lebih rumit, karena di sinilah penilaian subjektif sulit dihindari.

Mengapa Trofi Itu Tak Semestinya Diberikan ke Sunderland

Menyangkut pertanyaan kedua, seorang penggemar Sunderland mengaku tidak menginginkan trofi yang diberikan sebagai kompensasi. Alasannya lahir dari kenyataan bahwa ia belum pernah menyaksikan klubnya menjuarai kompetisi besar. Jika momen itu akhirnya datang, ia ingin momen tersebut benar-benar murni, bukan hasil keputusan meja hijau.

Ia membayangkan kenangan yang bisa diwariskan lintas generasi, seperti sorotan pertandingan 1973: gol Ian Porterfield, penyelamatan Jim Montgomery, dan selebrasi Bob Stokoe yang berlari melintasi lapangan dengan mantel serta topi trilby. Kenangan semacam itu tidak bisa direkayasa oleh keputusan komisi mana pun.

Yang diinginkan adalah luapan adrenalin saat gol tercipta, kegelisahan menegangkan di masa injury time, dan ledakan emosi ketika peluit akhir berbunyi. Ia ingin merasakan tangis, pelukan, kebersamaan, dan kegembiraan kolektif yang biasa dibicarakan generasi ayahnya. Ia bahkan ingin merayakannya dengan mabuk dan bernyanyi di kereta, bukan mengetahui bahwa klubnya juara lewat notifikasi ponsel 12 tahun kemudian saat sedang membereskan mesin pencuci piring.

Bagi sebagian orang, hitungan trofi jauh kalah penting dibanding pengalaman memenangkannya beserta kenangan dan rasa kebersamaan yang ditimbulkannya. Kemuliaan yang pernah dirampas tidak bisa diperbaiki satu generasi kemudian oleh komisi independen, seberapa pun terhormatnya komisi itu.

Menghadiahkan Gelar ke Rival Juga Bermasalah

Mengalihkan gelar liga kepada rival terasa bahkan lebih tidak memuaskan. Pada musim 2017-18, misalnya, persaingan juara praktis sudah selesai pada akhir Januari ketika City unggul 15 poin di puncak klasemen. City lantas mengumpulkan 100 poin, sementara empat tim di bawahnya — Manchester United, Liverpool, Chelsea, dan Tottenham — hanya terpaut lima poin satu sama lain.

Dalam situasi seperti itu, tidak ada dorongan berarti bagi keempat tim tersebut untuk memeras tenaga demi mengejar City. Prioritas mereka bergeser: United, Chelsea, dan Tottenham menembus semifinal Piala FA, sedangkan Liverpool melaju sampai final Liga Champions. Sangat wajar jika tak satu pun dari mereka menjadikan liga sebagai target utama.

Karena itu, memberi gelar kepada Manchester United yang finis sebagai runner-up akan terasa kosong sekaligus sewenang-wenang. Trofi yang dianugerahkan bukan berdasarkan pertarungan di lapangan, tetapi berdasarkan keputusan administratif belaka, punya nilai yang berbeda sama sekali.

Mengapa Sanksi Manchester City Harus Berupa Pencabutan Gelar

Namun semua itu tidak berarti City boleh mempertahankan gelar-gelarnya. Mereka meraih trofi-trofi itu secara tidak adil, jadi atas dasar apa mereka diizinkan menyimpannya? Hal serupa bisa dikatakan soal Chelsea, tetapi itu justru argumen mengapa Chelsea juga layak dicabut gelarnya, bukan argumen mengapa City dibiarkan.

Membiarkan trofi itu tetap tercatat di buku rekor sama saja mewariskan catatan keliru kepada generasi berikutnya. Bagaimana mungkin City berdiri sebagai klub tersukses keempat dalam sejarah liga ketika begitu banyak kesuksesan itu diraih lewat kecurangan, tanpa ada catatan apa pun yang menjelaskan asal-usulnya?

Argumen bahwa para pemain City berjuang keras untuk trofi-trofi itu memang sering dilontarkan. Tetapi pemain dari tim-tim lain juga berjuang sama kerasnya, dan mereka melakukannya tanpa melanggar aturan. Menang dengan skuad dalam yang penuh pemain kelas atas jelas lebih mudah, apalagi para pemain itu tertarik ke City oleh tawaran uang yang sumbernya, menurut kesimpulan komisi independen, telah disamarkan sehingga melanggar regulasi Premier League.

Kenangan euforia memang tidak bisa dihapus begitu saja dari kepala siapa pun. Jika para penggemar City — juga pemain, staf pelatih, dan direksi — masih ingin bersorak atas gol Sergio Agüero di menit ke-94 yang mengunci gelar Premier League 2012, tidak ada yang bisa melarang. Namun dunia di luar sana tahu persis apa yang menjadi dasarnya: ketika klub-klub lain bermain sesuai regulasi yang mereka sepakati bersama, City tidak.

Catatan Kosong di Daftar Kehormatan

Konsekuensi paling tegas dari sikap itu adalah dibiarkannya sejumlah gelar tanpa pemilik. Artinya tidak ada juara Premier League pada 2012, 2014, dan 2018; tidak ada juara Piala FA pada 2011; serta tidak ada juara Piala Liga pada 2014, 2016, dan 2018. Wajar pula jika kemudian muncul pertanyaan apakah masih ada periode setelah 2018 yang perlu diselidiki lebih jauh.

Jika daftar kehormatan harus menyisakan ruang kosong, biarkanlah demikian, karena memang tidak ada kehormatan di sana. Ruang-ruang kosong itu bisa berdiri sebagai kesaksian atas apa yang sebenarnya terjadi pada musim-musim tersebut. Ia juga bisa menjadi memorial bagi tahun-tahun ketika sebuah entitas asing mencoba menyubversi sepak bola Inggris, mengambil salah satu ekspresi budaya terbesar negeri itu, lalu membelokkannya demi kepentingan politiknya sendiri.

Lebih dari itu, kekosongan tersebut menjadi peringatan akan bahaya kapitalisme laissez-faire, ketika segala sesuatu — sekencang apa pun dicintai — bisa dijual kepada penawar tertinggi. Ia sekaligus menjadi monumen bagi Premier League yang akhirnya, meski terlambat, berani mengambil tindakan dan menjaga independensi prosesnya. Sebuah institusi yang rela menanggung risiko besar terhadap kesejahteraannya sendiri demi memilih keadilan, kewajaran, dan kesopanan dibanding kesepakatan kotor dengan pihak kaya dan berkuasa.

Pada akhirnya, seluruh persoalan ini bukan sekadar soal siapa mengangkat trofi, melainkan soal integritas kompetisi yang dipertaruhkan. Sunderland mungkin tidak akan pernah mendapatkan kembali momen 2014 itu, dan sebagian penggemarnya pun tidak menginginkannya dengan cara instan. Namun membiarkan gelar yang diraih secara curang tetap berdiri di buku rekor justru merusak makna kehormatan itu sendiri bagi semua klub yang bertanding dengan jujur.

Biarkan tahun-tahun tanpa juara itu tetap kosong untuk selamanya, sebagai teguran sekaligus penghormatan. Sebab kadang, kekosongan adalah pernyataan yang paling lantang.

Similar Posts