Lise Klaveness Dorong Reformasi FIFA dan Tantang Infantino
Lise Klaveness, Presiden Federasi Sepak Bola Norwegia, kembali mendesak FIFA dan organisasi pengatur sepak bola lain untuk serius menangani isu remedy, yakni pemulihan hak dan kompensasi bagi pekerja yang terdampak turnamen besar. Berbicara di tengah cuaca buruk di kawasan pemerintahan Oslo, ia menegaskan bahwa negaranya tidak mungkin menyelesaikan persoalan ini sendirian, tetapi memiliki suara dan hak untuk mengajukan usulan perubahan. Menurutnya, Norwegia setidaknya harus berperan sebagai ujung tombak dalam mendorong tata kelola sepak bola yang lebih bertanggung jawab.
Isu remedy menjadi jauh lebih mendesak setelah Piala Dunia di Qatar, ketika keluarga pekerja yang cedera atau meninggal dalam proyek yang menyiapkan turnamen tidak memperoleh kompensasi finansial. FIFA memilih mengarahkan dana warisan ke tempat lain, meskipun proses tinjauan yang dilakukan setelah dorongan Klaveness menemukan bahwa organisasi itu memiliki tanggung jawab untuk menyediakan remedy. Karena FIFA tidak mengubah arah dana tersebut, Klaveness kini berupaya menarik perhatian kembali pada persoalan ini dan memastikan praktik baru diterapkan pada Euro 2028 serta Piala Dunia 2034 di Arab Saudi.
Lise Klaveness dan Perjuangan Remedy Sejak Qatar
Klaveness tidak hanya berbicara soal prinsip. Ia mendorong FIFA meninjau ulang proses penanganan dampak sosial turnamen, lalu menindaklanjuti temuan yang menyatakan bahwa federasi dunia itu bertanggung jawab menyediakan remedy. Namun keputusan FIFA untuk tidak mengalihkan dana warisan ke keluarga pekerja membuat persoalan ini tetap terbuka. Bagi Klaveness, tinjauan tanpa tindakan nyata belum cukup untuk memulihkan kepercayaan publik terhadap penyelenggara turnamen.
Perhatiannya kini tertuju pada dua ajang besar berikutnya. Euro 2028 akan digelar bersama oleh Inggris, Skotlandia, Wales, dan Republik Irlandia, sementara Piala Dunia 2034 direncanakan berlangsung di Arab Saudi. Klaveness ingin memastikan ada mekanisme yang jelas sebelum turnamen dimulai, bukan setelah masalah muncul. Ia juga menyoroti Arab Saudi, karena sumber-sumber gerakan buruh menilai pengawasan eksternal terhadap kondisi pekerja di sana saat ini sangat minim atau bahkan nyaris tidak ada.
Dengan mendorong praktik baru sejak sekarang, Klaveness berharap penyelenggara turnamen tidak lagi hanya bereaksi setelah kerusakan terjadi. Ia ingin dana remedy disiapkan lebih awal dan mekanisme distribusinya dibahas secara terbuka. Pendekatan ini dipandang penting agar keluarga pekerja tidak kembali terjebak dalam ketidakpastian ketika proyek turnamen selesai dan sorotan publik meredup.
Tantangan bagi Infantino di Tengah Pemilihan
Langkah Klaveness berlangsung pada momen yang sensitif. Gianni Infantino meyakinkan pendukungnya bahwa mayoritas besar elektorat FIFA akan mendukung pemilihannya kembali sebagai presiden tahun depan. Meski begitu, banyak kalangan di dalam sepak bola melihat pemilihan tersebut sebagai kesempatan untuk mendorong perubahan kepemimpinan dan arah organisasi. Klaveness termasuk di antara mereka yang menganggap status quo belum cukup.
Sejak 2022, Klaveness telah menjadi salah satu suara yang mengganggu Infantino. Saat itu ia mengangkat topik remedy di lantai kongres FIFA, lalu pada musim panas ini menyerukan agar Infantino mundur setelah skandal kartu merah Balogun dan kekacauan FIFA Forward Enterprise. Sikapnya yang konsisten membuat ia dipandang sebagai figur yang berani bersuara, tetapi juga sebagai pihak yang sering berseberangan dengan kepemimpinan FIFA.
Ketegangan ini tidak hanya soal personal. Klaveness menilai Infantino terpilih dengan janji reformasi yang benar-benar dipercaya banyak pihak, tetapi janji itu tidak dijalankan sepenuhnya. Kekecewaan terhadap implementasi reformasi itulah yang membuat isu tata kelola menjadi bagian penting dari kritiknya. Ia menegaskan fokusnya bukan pada sosok Infantino semata, melainkan pada arah tata kelola FIFA ke depan.
Peluang Kandidat Lain dan Batas Waktu Nominasi
Nama Klaveness sempat disebut sebagai kemungkinan kandidat dalam pemilihan presiden FIFA. Ia bahkan menerima dukungan dari Sepp Blatter, mantan presiden FIFA yang tersangkut skandal; Blatter menilai Klaveness layak dihormati dan menyatakan sudah waktunya perempuan memimpin organisasi itu. Klaveness menanggapi dukungan tersebut dengan sindiran bahwa Blatter dulu menginginkan pemain perempuan memakai celana pendek yang lebih pendek. Soal pencalonan, ia hampir sepenuhnya menutup kemungkinan itu.
Ia menyadari namanya muncul karena publik cemas terhadap tata kelola FIFA dan karena Norwegia vokal menyuarakan isu tersebut. Namun ia menilai peran internasional yang terlalu lantang justru bukan cara paling efisien untuk mengumpulkan suara. Karena itu, ia tidak melihat pencalonan dirinya sebagai kemungkinan nyata pada putaran ini dan menyebut hal itu tidak pernah menjadi agenda utamanya. Meski begitu, ia tetap mendorong munculnya kandidat lain yang mampu membawa perubahan.
Menurut Klaveness, kandidat yang maju harus punya peluang menang, bukan sekadar mengisi daftar. Ia menekankan pentingnya mendiskusikan siapa yang bisa membangun platform untuk menang sebelum tenggat nominasi pada 18 November. Selain itu, kandidat perlu memiliki basis di berbagai konfederasi karena ketidakpercayaan terhadap Infantino tidak hanya muncul di Eropa, tetapi juga di banyak kawasan lain. Ia menggambarkan situasi politik ini sebagai Game of Thrones dan menegaskan bahwa sejauh ini belum diketahui seberapa besar Infantino bisa ditantang tanpa adanya kandidat penantang yang kuat.
Dampak Reformasi bagi Tata Kelola FIFA
Jika gagasan Klaveness diterima, reformasi remedy akan berlaku bagi semua penyelenggara dan kompetisi, bukan hanya FIFA. Ia berbicara tentang membangun aliansi untuk mendukung proposal yang mewajibkan dana disisihkan sebelum turnamen berlangsung. Proposal itu juga harus mengatur mekanisme distribusi dana agar bantuan sampai kepada pihak yang berhak secara transparan. Dengan cara ini, tanggung jawab terhadap pekerja tidak bergantung pada kemurahan hati setelah turnamen usai.
Klaveness ingin mengajukan proposal tersebut pada kongres FIFA berikutnya. Ia menilai reformasi bisa dimulai dari FIFA sebagai organisasi payung tertinggi, lalu diperluas ke UEFA dan badan pengatur lainnya. Strategi ini sejalan dengan preferensinya untuk membangun kerja sama terbuka, bukan kesepakatan yang dibuat di balik pintu tertutup. Pada Selasa, ia menyampaikan argumennya dalam pertemuan politisi yang memperingati 50 tahun pedoman OECD tentang perilaku bisnis yang bertanggung jawab.
Posisi Klaveness kini berbeda dari sebelumnya. Ia tidak lagi sendirian bersuara di forum konferensi karena semakin banyak pihak, setidaknya secara pribadi, mengaku berbagi nilai yang sama. Dukungan ini memperkuat legitimasi agenda remedy dan tata kelola yang lebih baik. Prestasi dua tim nasional Norwegia yang ia pimpin juga menambah bobot kredibilitasnya di tengah perdebatan internasional.
Dari Lapangan ke Meja Kebijakan
Klaveness bukan sosok yang asing dengan dinamika lapangan. Mantan gelandang dengan 73 penampilan untuk Norwegia itu kini memimpin federasi yang menaungi dua tim nasional yang cukup sukses. Tim perempuan Norwegia akan menghadapi babak play-off melawan Wales untuk lolos ke Piala Dunia tahun depan, sementara tim pria mencuri perhatian dan meraih kemenangan di Amerika Serikat pada tahun ini. Latar belakang ini memberi perspektif tersendiri dalam cara ia memandang sepak bola.
Ia mengenang pengalaman Piala Dunia dengan sedikit geli, terutama saat harus berada di jalan selama tujuh minggu bersama 65 pria. Ia juga bercerita pernah melihat Erling Haaland bersama bangkai rakun, momen yang menunjukkan sisi lain dari kehidupan turnamen. Bagi Klaveness, sepak bola mencakup banyak hal: olahraga, kompetisi, fenomena budaya, sekaligus alat sosial. Namun jika permainan ingin tetap terbuka bagi semua orang, konflik akan selalu ada dan tidak bisa dihindari.
Pandangan itu menjelaskan mengapa Klaveness tidak gentar menghadapi perdebatan di FIFA. Baginya, konflik bukan tanda kegagalan, melainkan bagian dari upaya menjaga sepak bola agar tetap inklusif dan bertanggung jawab. Ia memilih menggunakan posisinya untuk mendorong perubahan sistemik, bahkan ketika harus berseberangan dengan pemimpin organisasi. Dengan tenggat nominasi yang mendekat dan turnamen besar di depan mata, tekanan untuk memperbaiki tata kelola akan semakin sulit diabaikan.
Klaveness belum menyatakan diri sebagai kandidat, tetapi ia berhasil menjaga isu remedy dan tata kelola FIFA tetap berada di pusat perdebatan. Dorongannya agar dana kompensasi disiapkan sebelum turnamen, mekanisme distribusi dibuat transparan, dan praktik baru diterapkan di Euro 2028 maupun Piala Dunia 2034 menunjukkan arah reformasi yang konkret. Ia juga menegaskan bahwa tantangan terhadap Infantino tidak harus datang dari dirinya sendiri, asalkan ada kandidat yang mampu menang dan membawa perubahan.
Dalam waktu dekat, perhatian akan tertuju pada siapa yang maju sebelum 18 November dan bagaimana kongres FIFA merespons gagasan remedy. Apa pun hasilnya, Klaveness telah mengubah cara isu hak pekerja dibicarakan di lingkup federasi: bukan sebagai catatan kaki turnamen, melainkan sebagai ujian bagi kredibilitas tata kelola sepak bola. Konflik yang ia sebut tak terhindarkan itu tampaknya baru akan dimulai lagi.
