|

De Zerbi Bela Belanja Tottenham: Semua Klub Ingin Bunuh Kami

De Zerbi Bela Belanja Tottenham dan Motivasi dari Kebencian Rival

Roberto De Zerbi membuka suara di tengah hiruk-pikuk bursa transfer musim panas ini. Ia membela langkah Tottenham Hotspur yang menggelontorkan dana sangat besar untuk merekrut pemain anyar. Lebih dari itu, pelatih asal Italia itu juga mengungkapkan bahwa semua klub rival sempat ingin melihat Spurs “dibunuh” pada musim lalu.

Menurut De Zerbi, tekanan itulah yang terus ia tanamkan ke dalam tim sepanjang pramusim. “Saya tidak tahu mengapa orang tidak suka jika Tottenham menjadi lebih baik. Ini satu motivasi lagi bagi kami. Musim lalu, semua klub lain ingin membunuh kami,” ujarnya. Ia meminta para pemainnya mengingat musim lalu setiap pekan sebagai bahan bakar untuk bangkit.

Belanja Tottenham Tembus Lebih dari £300 Juta

Belanja Tottenham pada jendela transfer ini diperkirakan menembus angka £300 juta. Sejumlah rekrutan mahal sudah masuk, dan beberapa pemain lain masih diantisipasi menyusul. Berikut daftar pembelian yang telah atau sedang dirampungkan Spurs:

  • Sandro Tonali — £92,5 juta
  • Mateus Fernandes — £85 juta
  • Jan Paul van Hecke — £52 juta
  • Savinho — £85 juta, dari Manchester City
  • Omar Marmoush — £75 juta, dari Manchester City

Dengan tambahan Savinho dan Marmoush, total pengeluaran Tottenham jelas menembus £300 juta. Belanja sebesar ini menjadi sinyal bahwa Spurs tidak ingin lagi berada di zona bahaya. Mereka berusaha membangun skuad yang jauh lebih kompetitif untuk musim-musim mendatang.

Dua Musim Nyaris Degradasi dan Momen Krusial di Balik Rombakan

Keputusan belanja besar bukanlah kebetulan. Tottenham menghabiskan dua musim beruntun berada di ambang degradasi, bahkan musim lalu hanya selamat setelah menang di laga pamungkas. Setelah Daniel Levy mundur dari kursi ketua eksekutif pada September tahun lalu, jendela transfer musim panas ini menjadi yang pertama bagi Spurs di era kepemimpinan baru.

De Zerbi diangkat pada akhir Maret sebagai pelatih dengan misi penyelamatan. Ia mengaku sudah mendiskusikan target transfer dengan klub sejak Maret, sebelum penunjukannya diumumkan. Momen itu ia sebut sebagai titik krusial karena tim nyaris mengalami bencana besar dan jelas butuh perubahan total.

“Setelah dua musim seperti yang kami jalani, kami harus mengubah suasana, mengubahnya sepenuhnya, dan memberi dorongan,” kata De Zerbi. Musim ini menjadi jendela transfer tersibuk Tottenham sejak 2013. Saat itu, Spurs mendapatkan £85,3 juta dari penjualan Gareth Bale ke Real Madrid, lalu membelanjakannya untuk Erik Lamela, Christian Eriksen, Étienne Capoue, Roberto Soldado, dan Nacer Chadli.

Namun belanja sekitar £80 juta pada 2013 jauh lebih kecil dibandingkan perombakan besar-besaran musim panas ini. Tahun itu masih terhitung investasi besar, tetapi belum mampu mengangkat Tottenham ke level elite. Kini De Zerbi datang dengan pendekatan berbeda dan dukungan dana yang jauh lebih besar.

Kritik “Tottenham Money” dan Jawaban De Zerbi

De Zerbi juga merespons kritik yang kerap menyebut Tottenham terlalu banyak menghabiskan uang. Baginya, tidak ada tim yang bisa bersaing di level tertinggi tanpa belanja besar. Ia justru mempertanyakan mengapa belanja Tottenham dianggap masalah di Premier League, sementara klub lain juga mengeluarkan dana besar musim ini dan sebelumnya.

“Saya sudah terlalu sering mendengar soal uang Tottenham, uang Tottenham. Tapi saya mencintai sepak bola sejak lama, dan saya tidak melihat tim mana pun yang bersaing di level tinggi tanpa mengeluarkan uang,” ujarnya. “Mungkin jika Tottenham mengeluarkan uang, itu menjadi masalah di Premier League? Saya tidak tahu kenapa. Semua tim lain juga mengeluarkan uang di masa lalu dan musim ini.”

Pernyataan itu menunjukkan bahwa De Zerbi tidak merasa belanja Spurs perlu dipertanyakan. Baginya, investasi besar adalah konsekuensi logis dari ambisi bersaing di papan atas. Ia justru melihat ini sebagai langkah yang harus diambil setelah dua musim yang penuh tekanan.

Target Besar Tottenham: Papan Atas dan Pentas Eropa

Belanja Spurs belum selesai. De Zerbi mengisyaratkan akan ada lebih banyak pemain depan yang datang karena tim ingin memiliki skuad yang mampu menantang gelar Premier League dan rutin tampil di kompetisi Eropa. Ia berharap setelah bursa transfer ditutup, tim bisa bekerja bersama dalam kondisi dan arah yang tepat.

“Ketika bursa transfer selesai, untuk waktu yang lama kami tidak membutuhkan banyak hal dan kami bisa bekerja sama dalam kondisi yang tepat, di arah yang tepat, untuk membangun sesuatu yang istimewa selangkah demi selangkah, atau setidaknya bersaing di papan atas,” kata De Zerbi. “Mungkin tidak sekarang, atau mungkin ya, saya tidak tahu. Tapi kami punya skuad untuk tampil di setiap stadion.”

Target itu terdengar ambisius, tetapi setidaknya Tottenham kini memiliki modal untuk bermimpi lebih besar. Dengan belanja besar dan komposisi pemain baru, Spurs ingin segera meninggalkan era sulit. Pertanyaannya kini tinggal apakah De Zerbi mampu menyatukan semua pemain baru itu menjadi tim yang solid.

Kapten Baru dan Grup Kepemimpinan Spurs

Di tengah belanja besar, Tottenham juga punya dinamika internal. Micky van de Ven ditunjuk sebagai kapten klub menyusul kepergian Cristian Romero ke Atlético Madrid. Namun bek Belanda itu dipastikan absen saat Spurs bertandang ke Brentford pada Sabtu malam karena cedera.

De Zerbi membentuk grup kapten yang berisi sejumlah pemain senior. Pedro Porro menjadi wakil kapten meski juga sedang cedera, sementara Ben Davies, James Maddison, dan Archie Gray ikut masuk dalam kelompok kepemimpinan tersebut. Dengan banyaknya pemain yang absen, kepemimpinan di lapangan akan diuji sejak awal musim ini.

Langkah ini menunjukkan bahwa De Zerbi tidak hanya fokus pada belanja pemain, tetapi juga membangun struktur tim yang kuat. Ia ingin para pemainnya saling bertanggung jawab, bukan hanya mengandalkan satu kapten. Inilah bagian dari perubahan besar yang ia janjikan sejak kedatangannya.

De Zerbi tampak ingin menjadikan musim lalu sebagai pelajaran sekaligus pendorong. Dengan belanja yang menembus ratusan juta pound dan kepemimpinan baru di ruang ganti, Tottenham berusaha keluar dari bayang-bayang krisis dan membangun tim yang kompetitif. Kini tinggal dibuktikan di lapangan, apakah perombakan sebesar ini mampu mengubah nasib Spurs musim depan.

Similar Posts