|

Kebangkitan Hull City: Dari Ambang Degradasi ke Posisi 3

Kebangkitan Hull City menjadi salah satu kisah paling mengejutkan di awal kompetisi Premier League. Setelah menahan imbang Chelsea 2-2 di Stamford Bridge pada Sabtu malam, Hull meninggalkan London dengan menempati posisi ketiga klasemen dan mengoleksi delapan poin. Hasil tersebut sekaligus memperpanjang tren tak terkalahkan mereka menjadi empat pertandingan beruntun.

Pencapaian itu terasa nyaris tidak masuk akal jika melihat titik awalnya. Dalam empat laga tersebut, Hull telah mengalahkan Manchester United dan Coventry serta mencuri hasil imbang melawan Aston Villa dan Chelsea. Padahal, hanya tiga minggu sebelum kompetisi dimulai, banyak pihak memperkirakan mereka akan mengancam rekor poin terburuk sepanjang sejarah Premier League milik Derby County. Kini, meski kompetisi baru berjalan di bulan September dan masih menyisakan 34 pertandingan, ada cukup alasan untuk mengakui bahwa awal musim mereka luar biasa.

Fakta Utama: Modal Delapan Poin dari Empat Laga

Posisi ketiga yang ditempati Hull bukanlah hasil dari satu keberuntungan semata. Mereka melewati empat pertandingan pembuka tanpa sekali pun merasakan kekalahan, dengan dua kemenangan dan dua hasil imbang. Kemenangan atas Manchester United menjadi penanda paling mencolok bahwa tim promosi ini tidak datang ke Premier League sekadar untuk bertahan hidup.

Hasil imbang di Stamford Bridge memperlihatkan sisi lain dari kekuatan mereka. Menghadapi tim yang jauh lebih mapan, Hull tetap mampu mencuri satu poin di kandang lawan. Kombinasi hasil-hasil itu membuat mereka bertengger di papan atas, setidaknya untuk sementara waktu.

Meski demikian, perlu dicatat bahwa perjalanan masih sangat panjang. Hull tidak akan benar-benar bersaing dengan Arsenal atau Manchester City hingga akhir Mei nanti. Namun, apa yang sudah mereka tunjukkan sejauh ini cukup untuk membungkam sebagian keraguan yang menyelimuti mereka sebelum musim bergulir.

Latar Belakang: Kronologi yang Nyaris Berujung Tragedi

Untuk memahami seberapa jauh Hull telah melangkah, kita perlu melihat kembali hari terakhir Championship 2024-25. Saat itu, Hull berada di tiga besar dari bawah dan nasib seluruh musim mereka ditentukan dalam 90 menit melawan Portsmouth di Fratton Park. Menang berarti aman, imbang berarti menggantungkan harapan pada hasil pertandingan lain, dan kalah berarti turun ke League One.

Laga itu berakhir imbang 1-1, dan kekalahan Luton dari West Brom menjadi penyelamat mereka. Hull bertahan di Championship, tetapi hanya berkat selisih gol. Titik aman yang mereka raih begitu tipis sehingga nyaris tidak terlihat sebagai fondasi apa pun.

Kondisi setelahnya justru makin rumit. Umumnya klub akan membangun ulang skuad setelah musim yang hampir berakhir dengan degradasi, tetapi Hull justru terkena embargo transfer. Sanksi itu dijatuhkan setelah klub gagal membayar biaya pinjaman Louie Barry sebesar £1 juta kepada Aston Villa. Akibatnya, tim yang mencetak gol paling sedikit di liga — hanya 44 gol dari 46 pertandingan — tidak bisa memperkuat diri.

Yang lebih buruk, manajer Rubén Sellés yang baru lima bulan menjabat segera kehilangan posisinya. Situasi seperti ini jelas bukan titik lompatan yang ideal untuk merancang kampanye promosi.

Strategi di Balik Kebangkitan Hull City

Namun 12 bulan berselang, Hull justru merayakan promosi di Wembley. Sergej Jakirovic mengambil alih kursi pelatih pada awal musim lalu dan mengantar klub finis di peringkat keenam, cukup untuk mengamankan tempat di babak playoff. Hull mengumpulkan 73 poin sekaligus mencetak 70 gol sepanjang musim.

Untuk memberi konteks, Coventry pada periode yang sama mengumpulkan 95 poin dengan 97 gol. Fakta bahwa Hull bahkan bisa masuk playoff sudah menentang logika statistik. Jika pertandingan mereka ditentukan berdasarkan expected goals, mereka seharusnya finis di posisi kedua dari bawah. Mereka juga kebobolan 66 gol, menjadikan lini pertahanan mereka sebagai yang terburuk keempat di liga.

Melihat kecepatan dan ketidakmungkinan statistik dari lonjakan tersebut, wajar bila banyak pengamat meragukan apakah Jakirovic dan skuadnya mampu bertahan di Premier League. Keraguan itu ternyata belum terbukti, setidaknya sampai saat ini.

Bukti awal menunjukkan pendekatan mereka berjalan efektif. Hull tidak bermain seperti kandidat promosi pada umumnya di Championship: mereka tidak mendominasi penguasaan bola dan tidak menenggelamkan lawan dengan tekanan. Justru karakter itu yang menjadi salah satu kekuatan terbesar mereka di Premier League. Usai kemenangan atas Manchester United di pekan pembuka, asisten manajer Dean Holden menyatakan bahwa timnya nyaman bermain tanpa bola dan tidak perlu mengubah cara main hanya karena kini tampil di level yang lebih tinggi.

Analisis: Identitas Permainan yang Tetap Dijaga

Data memperkuat pernyataan Holden. Di Championship musim lalu, Hull rata-rata hanya menguasai bola 45 persen, terendah kelima di divisi tersebut. Di Premier League, angka itu turun menjadi 29,4 persen, yang terendah di antara semua tim. Artinya, Hull tidak perlu menjawab pertanyaan yang biasanya menghantui tim promosi tentang bagaimana beradaptasi saat tidak menguasai bola.

Mereka hanya menjalankan versi yang sedikit lebih ekstrem dari gaya yang sudah mereka kuasai. Pendekatan panjang, vertikal, dan langsung tetap dipertahankan. Fase pertama serangan sering kali berupa bola panjang ke arah Oli McBurnie di tengah lapangan, lalu para gelandang berusaha memenangkan bola kedua dan memindahkan serangan ke sisi sayap. Ryan Giles di posisi wing-back kiri menjadi target utama untuk melepaskan umpan silang cepat atau mencari pemain di dalam kotak penalti.

Pola itu terlihat jelas dalam statistik. Hull melepaskan operan panjang terbanyak kedua di Championship musim lalu dengan 3.057 umpan, sekaligus mencatat operan paling sedikit per rangkaian serangan, yaitu 2,5. Musim ini, mereka kembali menjadi tim dengan operan panjang terbanyak kedua di Premier League (237) dan paling sedikit operan per rangkaian serangan (2,46). Giles sendiri naik dari peringkat ke-10 dalam jumlah umpan silang di Championship musim lalu (207) menjadi peringkat ketiga di Premier League musim ini dengan 28 umpan silang.

Perubahan besar setelah promosi sering kali merugikan tim yang baru naik kasta. Hull justru mendapat keuntungan dari kesinambungan. Setelah kebobolan terbanyak keempat di Championship musim lalu, mereka tidak kemasukan gol sama sekali dalam tiga pertandingan pertama di Premier League. Jakirovic kembali memilih konsistensi.

Formasi 5-4-1 yang dipakai untuk membendung Millwall dan Middlesbrough di babak playoff diterapkan lagi. Para pemain bertahan dalam blok menengah ke bawah, merapatkan jarak antarlini, memaksa lawan melebar, dan memenangkan duel di dalam kotak penalti. Regan Slater dan Matt Crooks bertugas menyaring serangan di lini tengah, sementara John Egan dan Semi Ajayi memenangkan duel-duel sulit di depan kiper. Kedatangan pemain baru pada musim panas, terutama Nobel Mendy, menambah kekuatan fisik lini belakang yang sudah tangguh. Tingkat keberhasilan duel darat mereka mencapai 53,8 persen, tertinggi keenam di Premier League, dan keberhasilan duel udara 52,3 persen yang juga menempati urutan keenam.

Konteks Lebih Luas: Kekompakan dan Bayang-bayang Masa Lalu

Ada satu faktor yang mungkin paling berharga bagi Hull namun sulit diukur dengan statistik: kekompakan kelompok. Skuad ini telah melewati banyak kesulitan bersama dan membentuk satu kesatuan yang rapat. Mereka memang mengeluarkan dana £150 juta pada bursa transfer musim panas, tetapi delapan dari sebelas pemain yang tampil sebagai starter di Stamford Bridge merupakan bagian dari tim yang meraih promosi musim lalu.

Hull menambahkan kualitas dan fisik khas Premier League tanpa berusaha menggantikan kelompok inti yang mengantar mereka ke sana. Berbicara tentang embargo transfer dan kesulitan musim lalu, Jakirovic menilai bahwa situasi tersebut justru membawa berkah. Menurutnya, kelompok pemain itu menjadi semakin erat karena harus saling bertahan dan membantu satu sama lain. Dengan kata lain, mereka telah menyempurnakan seni menjadi tim yang dianggap lemah.

Sejarah juga memberi peringatan agar tidak terburu-buru bersemangat. Para pendukung Hull tahu betul bagaimana sebuah musim bisa memburuk. Pada 2008-09, mereka sempat berada di posisi ketiga Premier League setelah sembilan pertandingan, tetapi akhirnya hanya selamat dari degradasi dengan selisih satu poin.

Mungkin mereka akan menerima hasil serupa musim ini. Namun untuk sekarang, tidak ada salahnya menikmati posisi di papan atas klasemen selama kebangkitan Hull City masih berlangsung.

Similar Posts