|

Start Buruk di Premier League: Coventry, Tottenham, Villa

Empat pekan sudah berjalan, dan start buruk di Premier League kini menjadi kenyataan pahit yang harus dicerna Coventry, Tottenham, dan Aston Villa. Coventry belum mengumpulkan satu poin pun sekaligus belum mencetak satu gol pun, Tottenham juga masih mandul meski sudah punya dua poin, sementara Villa baru mengoleksi satu poin dan terperosok ke zona degradasi. Bagi ketiganya, musim yang dibuka dengan penuh harapan mendadak berubah menjadi ujian kesabaran.

Optimisme awal musim memang selalu memabukkan. Apa pun yang terjadi pada musim sebelumnya, ada satu musim panas penuh untuk membenahi segalanya: pemain baru, mungkin pelatih baru, dan kemungkinan-kemungkinan baru. Masalahnya, baru pertengahan September, optimisme itu sudah luntur dan berganti kecemasan. Tulisan ini bukan untuk menggosok-gosokkan luka, melainkan mencari bukti bahwa sejarah Premier League masih menyediakan alasan untuk berharap bagi tim-tim yang sedang terpuruk.

Coventry: Nol Poin dan Nol Gol di Empat Laga Pertama

Coventry punya segala alasan untuk menantikan musim ini karena ini adalah musim pertama mereka di Premier League sejak 2001. Mereka datang sebagai juara Championship dan tengah menunggangi gelombang kepercayaan diri yang tinggi. Namun, kerasnya kompetisi kasta tertinggi langsung terasa, dan mereka sekarang berjuang mati-matian sekadar untuk menjaga kepala tetap di atas permukaan air.

Mereka menjadi satu-satunya tim Premier League tanpa poin setelah empat pertandingan, dan belum sekali pun mencetak gol. Perlu dicatat bahwa dua dari empat laga itu dimainkan di kandang dua tim terkuat di liga, Arsenal dan Manchester City. Penampilan Coventry di laga melawan City sebenarnya cukup mengesankan, dan mereka mungkin layak mendapatkan sesuatu dari pertandingan tersebut.

Sayangnya, kekalahan 1-0 di kandang dari sesama tim promosi, Hull, plus kekalahan telak 5-0 dari Brighton pada akhir pekan lalu, membuat kenyataan itu terpampang jelas: Premier League adalah urusan yang rumit. Kartu merah Taiwo Awoniyi di babak kedua saat melawan Brighton tidak membantu keadaan, tetapi Coventry sudah tertinggal 2-0 sebelum insiden itu terjadi. Ketika Lewis Dunk sudah melengkungkan bola ke sudut atas gawang dari jarak sekitar 30 yard, jelas hari itu bukan milik Coventry.

Seberapa Buruk Start Buruk di Premier League? Ini Rekam Jejaknya

Ada satu catatan yang terdengar menakutkan: Coventry adalah tim promosi kedelapan yang kalah di empat laga pertama pada sebuah musim Premier League. Dari delapan tim promosi tersebut, hanya satu yang akhirnya selamat dari degradasi, yaitu Southampton pada 2012-13. Angka itu jelas memberi gambaran betapa beratnya posisi Coventry saat ini.

Namun, bila cakupannya diperluas ke seluruh tim, bukan hanya tim promosi, datanya jauh lebih menenangkan. Sebelum Coventry, ada 18 tim yang kalah di empat pertandingan pembuka sebuah musim Premier League, dan delapan di antaranya tetap bertahan di kasta tertinggi. Yang terbaru adalah Everton pada 2024-25, yang membuktikan bahwa awal buruk tidak otomatis berujung pada degradasi.

Contoh paling melegakan datang dari Crystal Palace pada musim 2017-18. Di bawah asuhan Frank de Boer, Palace tidak mencetak gol dan tidak meraih satu poin pun dalam lima laga pertama. De Boer pun dipecat dan digantikan Roy Hodgson, tetapi rentetan itu belum langsung berhenti karena Palace sempat melewati tujuh pertandingan tanpa gol dan tanpa poin. Hodgson akhirnya membalikkan keadaan, dan Palace bukan hanya lolos dari degradasi, tetapi finis di peringkat 11. Bukan berarti Coventry harus memecat pelatih mereka, yang sudah jelas berjasa mengantar klub ke kasta tertinggi, dan memancing Hodgson yang kini berusia 79 tahun keluar dari masa pensiun juga bukan perkara mudah.

Catatan terburuk dalam hal rentetan tanpa poin di awal musim dipegang bersama oleh dua klub. Portsmouth gagal menang di tujuh laga pertama pada 2009-10 dan hanya mencetak tiga gol dalam rentetan itu, lalu mengakhiri musim di dasar klasemen dengan 19 poin; mereka juga terkena pengurangan sembilan poin karena masuk administrasi, meski tanpa hukuman itu pun mereka tetap finis terakhir. Norwich kalah di enam laga pertama pada 2021-22 dan juga finis paling bawah dengan 22 poin. Selain itu, tiga tim pernah kalah di lima laga pembuka, yaitu Southampton pada 1998-99, Sunderland pada 2005-06, dan Wolves musim lalu; Southampton bertahan, sedangkan Sunderland dan Wolves turun ke Championship setelah finis di posisi ke-20.

Tottenham: 407 Menit Tanpa Gol dan Rekor Terburuk Sepanjang Sejarah

Nasib buruk tidak hanya menimpa Coventry. Tottenham seharusnya menjalani musim ini dengan suasana berbeda setelah dua musim beruntun finis di peringkat 17. Roberto De Zerbi menyelamatkan mereka dari degradasi dengan susah payah musim lalu, dan klub pun mendukungnya di bursa transfer musim panas. Kenyataannya, empat laga berjalan tanpa satu gol pun dari Spurs, dan mereka baru mengumpulkan dua poin dari hasil imbang 0-0 melawan Nottingham Forest dan Everton.

Rentetan itu menorehkan rekor kelam: untuk pertama kalinya dalam sejarah klub, Tottenham gagal mencetak gol di empat laga liga pertama sebuah musim. Sudah 407 menit Spurs tidak mencetak gol di Premier League, dan ini juga menjadi kali pertama mereka gagal mencetak gol dalam empat pertandingan Premier League beruntun sejak September 2006. Bagi para pendukung, sensasi menyelam yang akrab itu perlahan menenggelamkan optimisme pra-musim.

Meski begitu, ada alasan untuk tidak panik. Selain Spurs dan Coventry musim ini, ada lima contoh sebelumnya di mana tim gagal mencetak gol di empat laga pertama Premier League: Palace pada 2017-18, Sheffield Wednesday pada 1994-95, Newcastle pada 2005-06, Swansea pada 2011-12, dan Aston Villa musim lalu. Yang penting, tidak satu pun dari mereka terdegradasi, dengan pencapaian terburuk hanya finis di peringkat 13 milik Sheffield Wednesday. Jadi, masalah ketajaman Spurs lebih merupakan krisis gol ketimbang tanda pasti menuju jurang degradasi.

Aston Villa: Satu Poin dan Terperosok ke Zona Degradasi

Villa punya cerita yang menunjukkan betapa cepat situasi bisa berubah. Musim lalu mereka baru mencetak gol pada laga kelima, tetapi kemudian menjalani kampanye gemilang dengan finis di peringkat empat dan menjuarai Europa League. Musim ini, skuad mereka terkena dampak penjualan pemain pada musim panas, sehingga awal yang lambat sebenarnya tidak terlalu mengejutkan.

Hasilnya, Villa baru mengumpulkan satu poin dari empat pertandingan setelah bermain imbang tanpa gol di kandang Hull. Kekalahan dari Brighton, Arsenal, dan Nottingham Forest membuat mereka kini berada di zona degradasi, dengan koleksi poin satu lebih sedikit dibandingkan posisi mereka di titik yang sama musim lalu. Situasi ini menuntut Villa segera menemukan keseimbangan sebelum jarak dengan tim-tim di atas semakin melebar.

Ini menjadi kali keempat Villa memulai musim Premier League tanpa kemenangan di empat laga pertama, setelah 1992-93, 1997-98, dan 2025-26. Setidaknya mereka sudah mencetak gol, lewat penyamaan kedudukan Alysson saat melawan Forest pada akhir pekan, meski laga itu akhirnya berakhir dengan kekalahan. Sama seperti Tottenham, Villa bisa menjadikan peningkatan tajam mereka setelah titik ini pada musim sebelumnya sebagai bahan bakar optimisme.

Fulham Ikut Tertatih, tapi Masih Ada 34 Laga Tersisa

Fulham juga masuk daftar tim yang startnya belum mulus, tetapi akhir pekan lalu memberi angin segar berupa hasil imbang yang layak di markas Liverpool, sekaligus poin pertama mereka musim ini. Meski masih menghuni tiga terbawah, penampilan itu bisa menjadi fondasi untuk bangkit dan membungkam keraguan yang sempat muncul setelah kekalahan beruntun dari Chelsea, Sunderland, dan Palace di awal musim.

Empat pertandingan sudah lewat, dan masih ada 34 laga tersisa. Coventry tentu ingin segera meraih poin pertamanya, sementara bagi Tottenham, sesuatu yang sederhana seperti satu gol bisa menjadi kunci yang membuka potensi mereka. Waktu masih sangat panjang untuk memulihkan suasana positif hingga akhir Mei nanti, dan bisa jadi tim yang seharusnya khawatir justru belum menyadari posisinya sendiri.

Kesimpulannya, start buruk di Premier League memang tidak nyaman, tetapi tidak selalu berakhir tragis. Coventry punya alasan untuk cemas karena belum mencetak gol sama sekali, Spurs perlu menemukan kembali ketajamannya, dan Villa harus segera keluar dari zona degradasi. Ketiganya masih memegang kendali atas nasib sendiri selama 34 pertandingan ke depan, dan sejarah mencatat banyak tim yang pernah berada di posisi serupa lalu berakhir dengan selamat.

Sumber data dan analisis: Opta Analyst.

Similar Posts