|

Persiapan Maroko Menyambut Piala Dunia 2030: Biaya, Warisan, dan Tantangan

Maroko Fokus Penuh pada Piala Dunia 2030

Perjalanan Maroko di Piala Dunia 2022 berakhir setelah dikalahkan Prancis di perempat final. Namun, tak ada waktu istirahat bagi para pejabat federasi sepak bola negara itu (FRMF). Hanya seminggu setelah final Piala Dunia Wanita di New Jersey, Rabat menjadi tuan rumah Piala Afrika Wanita (Wafcon) dengan format 16 tim yang baru diperluas. Di musim gugur, Maroko juga akan menggelar Piala Dunia U-17 Wanita.

Yang lebih menjadi sorotan adalah persiapan Maroko sebagai tuan rumah Piala Dunia 2030 bersama Spanyol dan Portugal. Dengan kurang dari 1.400 hari menjelang turnamen edisi keseratus itu, Maroko bertekad memastikan persiapan berjalan profesional demi menjadi tuan rumah Piala Dunia kedua di benua Afrika setelah Afrika Selatan 2010.

Biaya Raksasa Persiapan Infrastruktur

Maroko telah menganggarkan 50–60 miliar dirham Maroko (setara £4–4,8 miliar) untuk investasi langsung di bidang sepak bola. Ditambah biaya peningkatan infrastruktur yang dilaporkan mencapai £17 miliar, tugas ini sungguh berat. Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan memperkirakan percepatan pengeluaran antara 2024 dan 2030 akan mencapai 11,9% dari PDB Maroko tahun 2024.

Untuk mematangkan rencana, Yayasan Maroko 2030—organisasi persiapan turnamen yang mulai bekerja tahun 2024—telah banyak belajar dari Amerika Serikat, terutama dalam penyelenggaraan Piala Dunia. Pertemuan bulanan dengan Spanyol dan Portugal terus dilakukan untuk menyelaraskan kerja sama. FIFA diperkirakan akan menunjuk kota tuan rumah pada akhir tahun ini dan memutuskan apakah akan kembali ke model komite penyelenggara lokal (LOC) yang ditinggalkan pada turnamen sebelumnya.

Lebih dari Sekadar Sepak Bola

“Piala Dunia bagi Maroko bukan hanya soal sepak bola, melainkan pembangunan infrastruktur yang bermanfaat bagi masa depan negara,” ujar seorang pejabat tinggi yang tidak mau disebut namanya. “Stadion kami di Rabat dan Tangier sudah 100% siap.”

Sejarah panjang upaya Maroko menjadi tuan rumah dimulai sejak era Raja Hassan II yang wafat pada 1999. Negara ini pernah gagal dalam pencalonan Piala Dunia 1994, 2006, 2010, dan 2026 sebelum akhirnya mendapatkan kepercayaan menjadi tuan rumah bersama untuk 2030 di bawah Raja Mohammed VI.

Wartawan Amine El Amri, yang berusia 40 tahun, menyaksikan sendiri semua kegagalan tersebut. “Menyelenggarakan Piala Dunia adalah proyek yang melibatkan setiap warga Maroko dalam mimpi bersama. Biayanya besar, tapi juga memberikan dorongan luar biasa bagi infrastruktur masyarakat yang sangat muda dan dinamis,” katanya.

Pandangan Beragam Masyarakat Maroko

Namun, tidak semua warga setuju. Sosiolog olahraga Abderrahim Bourkia dari Institut Ilmu Olahraga Settat mencatat adanya pandangan yang mempertanyakan prioritas. “Ada yang berpendapat investasi besar itu sebaiknya dialihkan ke pendidikan, kesehatan, atau lapangan kerja. Latar belakang sosial dan pendidikan juga membentuk persepsi. Opini publik masih ambivalen,” jelasnya.

Meski begitu, Maroko terus berinvestasi besar-besaran di transportasi, bandara, kereta api, stadion, pembaruan perkotaan, dan layanan digital. Negara ini juga memperkuat kapasitas kelembagaan untuk menyelenggarakan mega-acara dan meningkatkan tata kelola.

Pelajaran dari Afrika Selatan 2010

Maroko disarankan belajar dari pengalaman Afrika Selatan sebagai tuan rumah Piala Dunia pertama di Afrika. Dennis Mumble, mantan CEO Asosiasi Sepak Bola Afrika Selatan yang tergabung dalam LOC 2010, mengingatkan pentingnya perencanaan warisan. “Kesuksesan terletak pada perencanaan warisan, mempromosikan persatuan nasional, dan memastikan infrastruktur tidak menjadi beban jangka panjang. Beberapa stadion bisa menjadi beban fiskal jika tidak dimanfaatkan secara optimal,” ujarnya.

Ia juga menceritakan pembengkakan biaya yang terjadi karena kontraktor menaikkan harga seenaknya ketika pemerintah menyetujui dana terlambat. “Kami kemudian menuntut mereka secara pidana dan mereka dihukum membayar denda besar.”

Mumble menekankan bahwa perencanaan yang sangat rinci adalah kunci. Hal ini menjadi pelajaran berharga bagi Maroko dalam menyusun anggaran dan jadwal.

Warisan untuk Afrika

Maroko mengusung konsep “berwarna Afrika” dalam penyelenggaraan Piala Dunia 2030. Namun, banyak komunitas sepak bola Afrika, khususnya di sub-Sahara, mempertanyakan apakah warisan nyata akan terwujud di luar slogan PR. Selama satu dekade terakhir, FRMF telah menjalin perjanjian kerja sama bilateral dengan mayoritas federasi sepak bola di benua itu. Hampir separuh negara Afrika tidak memiliki lapangan standar internasional, sehingga mereka sering bermain di luar negeri. Pejabat Maroko mengatakan kemitraan dengan Konfederasi Sepak Bola Afrika untuk mengatasi masalah ini merupakan bagian dari program warisan Piala Dunia mereka.

Tantangan Reputasi Global

Mumble juga memperingatkan bahwa manajemen reputasi global akan menjadi tantangan besar bagi Maroko, sama halnya dengan persiapan teknis. Isu politik, ekonomi, dan sosial Maroko akan mendapat sorotan media yang lebih tajam. Hal ini serupa dengan pengalaman Qatar sebagai tuan rumah 2022, yang harus menghadapi kritik keras terkait kematian pekerja migran dan pelanggaran hak asasi manusia.

Maroko sebagai tuan rumah Piala Dunia 2030 memang membawa harapan besar, namun juga tanggung jawab yang luar biasa. Dengan biaya raksasa dan ekspektasi publik yang tinggi, kesuksesan turnamen ini akan sangat bergantung pada perencanaan matang, tata kelola yang transparan, serta warisan nyata bagi rakyat Maroko dan Afrika secara keseluruhan.

Similar Posts