|

James Trafford dan Peluang Jadi Kiper Nomor 1 Inggris

James Trafford menolak anggapan bahwa musimnya bersama Manchester City berjalan sia-sia. Kiper Leeds United itu tampak sungguh tersinggung ketika dihadapkan pada pertanyaan apakah tahun lalu terasa penuh kekecewaan baginya. “Saya menang dua trofi,” ujarnya singkat namun tegas, seolah menegaskan bahwa penilaian orang lain tidak seharusnya menentukan makna perjalanan kariernya.

Keteguhan seperti itu memang menjadi modal utama seorang penjaga gawang, dan James Trafford memperlihatkannya baik di dalam maupun di luar lapangan. Pada laga melawan Spanyol di Wembley, ia dipercaya mengawal gawang Inggris untuk penampilan ketiganya bersama tim nasional. Laga itu sendiri menjadi penanda penting: untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, posisi kiper nomor satu Timnas Inggris terasa benar-benar terbuka untuk diperebutkan kembali.

Penampilan James Trafford Saat Inggris Menjamu Spanyol

Menghadapi sang juara dunia, Trafford tampil cukup baik, terutama pada 35 menit pembuka ketika Spanyol berpotensi mengamuk dan menguasai pertandingan. Ia melakukan dua penyelamatan penting yang menjaga Inggris tetap berada dalam pertandingan. Penampilan itu menjadi fondasi bagi kebangkitan Inggris yang sempat unggul 2-1 hingga turun minum.

Sayangnya, Inggris gagal mempertahankan keunggulan tersebut dan akhirnya kalah 3-2 pada laga pembuka Liga Negara UEFA. Kekalahan itu diperberat oleh kegagalan Harry Kane mengeksekusi penalti pada menit ke-54, momen yang seharusnya membuat Inggris unggul 3-1. Meski hasil akhirnya pahit, penampilan Trafford tetap menjadi salah satu catatan paling positif dari laga tersebut.

Ada dua momen yang layak digarisbawahi dari penampilan itu. Blok satu lawan satu dari Ferran Torres pada menit ke-16 menjadi bukti keberaniannya meninggalkan garis gawang untuk mempersempit ruang tembak. Sementara itu, sentuhan yang ia berikan pada tembakan rendah Dani Olmo di menit ke-35 nyaris tidak disadari banyak orang, terutama karena wasit tidak memberikan tendangan sudut setelah bola membentur tiang gawang.

Musim di Manchester City yang Tidak Sia-sia

Pertanyaan soal musimnya di City sebenarnya wajar muncul, karena semua orang masih mengingat situasinya. Trafford kembali ke klub masa mudanya itu dari Burnley pada Juli tahun lalu dengan status calon kiper nomor satu pilihan Pep Guardiola. Ia diproyeksikan sebagai pengganti Ederson, yang hengkang setelah delapan musim pelayanan berkualitas di Etihad.

Namun rencana itu berubah dengan cepat. Setelah hanya tiga pertandingan Premier League, Guardiola mendatangkan Gianluigi Donnarumma dari Paris Saint-Germain dan langsung menetapkannya sebagai pilihan utama. Keputusan tersebut otomatis mendorong Trafford ke posisi pelapis, sebuah situasi yang tentu tidak mudah bagi kiper muda yang baru saja kembali ke rumahnya sendiri.

Meski begitu, Trafford bukan tanpa kontribusi. Ia bermain di setiap ronde Carabao Cup dan FA Cup, serta mencatatkan clean sheet di kedua final ketika City mengalahkan Arsenal dan Chelsea. “Jelas tidak ideal bagaimana semuanya berjalan, tapi kalau dilihat ke belakang… saya punya dua trofi yang saya mainkan di setiap pertandingannya,” katanya. “Kita ambil sisi positifnya. Kita memainkan kartu yang dibagikan kepada kita.”

Statistik Impresif Bersama Leeds United

Kini Trafford memegang kartu yang berbeda, dan hasilnya terlihat jelas. Segalanya seolah berubah sejak kepindahannya ke Leeds pada Agustus lalu. Ia tampil menonjol dalam awal musim yang belum terkalahkan bagi klub barunya di Premier League, menjadi salah satu alasan utama di balik catatan tersebut.

Angka-angkanya berbicara sendiri. Tidak ada kiper lain di kompetisi ini yang mencatatkan penyelamatan lebih banyak dari 20 miliknya, dan tidak ada yang punya persentase penyelamatan lebih tinggi dari 85,7 persen. Ia hanya kebobolan tiga kali dalam lima pertandingan, sebuah rasio yang menempatkannya di antara kiper paling efektif di liga.

Trafford sendiri mengakui bahwa bermain secara reguler membuat perbedaan besar bagi performanya, termasuk peluangnya di tim nasional. “Jangan salah. Tidak banyak pemain yang jarang bermain bisa menjadi starter di tim nasional mana pun,” ujarnya. Pernyataan itu menegaskan bahwa menit bermain bukan sekadar soal kebugaran, melainkan juga soal ritme dan kepercayaan diri.

Posisi Jordan Pickford Mulai Dipertanyakan

Peluang itu terasa semakin nyata karena posisi kiper nomor satu Inggris belum pernah sekendur ini sejak lama. Jordan Pickford memegang tempat tersebut dengan sangat kuat sejak Gareth Southgate memilihnya untuk Piala Dunia 2018. Sepanjang periode itu, kiper Everton tersebut telah mengumpulkan 91 caps dan mencatatkan 47 clean sheet.

Karena itulah keputusan Thomas Tuchel mengejutkan banyak pihak. Ia menurunkan Trafford sejak menit awal melawan Spanyol dan mengumumkan bahwa kiper Leeds itu juga akan dimainkan melawan Ceko di Praha pada Selasa malam. Tuchel menyatakan Pickford akan kembali untuk dua laga terakhir jendela Liga Negara ini, yakni melawan Kroasia di Rijeka dan Ceko di Wembley.

Keputusan berbagi menit bermain itu sebenarnya bisa dibaca sebagai sinyal. Tuchel mengaku ingin melihat bagaimana Trafford menangani laga berprofil tinggi, dan jawabannya cukup memuaskan. Penampilannya di Wembley menunjukkan bahwa ia tidak gentar menghadapi tim peringkat teratas dunia, sesuatu yang tidak selalu bisa diukur dari statistik klub semata.

Di sisi lain, keraguan terhadap Pickford memang bukan tanpa dasar. Pada Piala Dunia musim panas, ia beberapa kali kebobolan dari jarak jauh, momen yang membuat sebagian orang bertanya-tanya apakah ia bisa berbuat lebih baik. Ketika tembakan Enzo Fernández melewatinya untuk Argentina di laga semifinal, Jude Bellingham terlihat berseru, “Bolanya masuk ke tengah gawang.” Gelandang Inggris itu tidak sendirian dalam menilai demikian.

Pickford juga kebobolan di tiang dekat saat melawan Republik Demokratik Kongo di babak 32 besar. Terlalu sering pula aksinya keluar dari kotak penalti membuat para pendukung Inggris cemas, seolah ia bermain di tepi jurang kesalahan fatal. Perlu dicatat, kesalahan besar itu memang tidak pernah benar-benar terjadi, tetapi kesan was-was itu tetap membekas.

Kelangkaan Kiper Inggris di Balik Persaingan

Persaingan antara Trafford dan Pickford berlangsung di tengah kelangkaan kiper berkualitas di Inggris. Dengan Dean Henderson yang cedera, Tuchel harus memanggil Jason Steele dari Brighton sebagai pilihan ketiga. Kiper berusia 36 tahun itu baru tampil sekali untuk klubnya musim ini, dan hanya mencatat total 10 penampilan dalam dua musim sebelumnya.

Nama-nama lain pun menghadapi situasi serupa. Aaron Ramsdale telah turun menjadi pilihan keempat di Southampton, Nick Pope tidak mendapatkan menit bermain di Newcastle, sedangkan Carl Rushworth kesulitan menembus tim utama di Coventry musim ini. Kondisi ini membuat lini kiper menjadi posisi paling rapuh dalam skuad Inggris saat ini.

Dalam konteks itulah peluang Trafford terlihat semakin besar. Ketika pemain-pemain alternatif justru kehilangan menit bermain di level klub, performa konsisten di Premier League bersama Leeds menjadi nilai jual yang sulit diabaikan. Persaingan terbuka ini pada akhirnya menguntungkan Inggris, karena memaksa setiap kandidat membuktikan kualitasnya secara nyata.

Mentalitas dan Mimpi James Trafford

Trafford dikenal sebagai pribadi yang bangga dengan akar utaranya, karena ia berasal dari keluarga petani di Cumbria, Inggris utara. Ia terkenal membumi dan tidak suka berlebihan ketika membicarakan status pribadinya. “Itu semua cuma hal imajiner, soal status dan sebagainya. Yang menentukan adalah bagaimana kamu membawa diri dan bagaimana kamu tampil,” tuturnya.

Ketika ditanya apakah penampilan apiknya bersama Leeds menambah kepercayaan dirinya di kamp Inggris, ia menjawab dengan tegas. “Tidak. Kemampuanmu tidak berubah apakah kamu bermain atau tidak. Yang berbeda hanya cara kamu memikirkannya di kepala,” ujar kiper berusia 23 tahun itu. Jawaban ini memperlihatkan bahwa ia berusaha menempatkan performa sebagai hasil kerja, bukan sekadar momentum sesaat.

Soal hubungannya dengan Pickford, Trafford menegaskan tidak ada ketegangan di antara mereka. “Saya dan Picks sama-sama anak utara dan kami akur. Realitas sepak bola memang begitu, semua orang bersaing untuk masuk starting XI,” katanya. Persaingan itu baginya adalah hal yang wajar dan sehat, bukan permusuhan pribadi.

Yang jelas, ambisinya tidak pernah surut. “Ini mimpi setiap kiper dan setiap pesepak bola untuk bermain dan menjadi starter bagi Inggris. Semua orang percaya mereka bisa menjadi starter. Mereka hanya berusaha membuktikannya setiap hari,” ucapnya. Dengan menit bermain yang terus berjalan di Leeds, pembuktian itu kini punya panggung yang jauh lebih terang.

Perjalanan James Trafford menunjukkan bahwa jalur menuju tim nasional tidak selalu lurus. Dari pelapis di Manchester City, ia menemukan kembali bentuk terbaiknya bersama Leeds United dan kini berdiri di ambang posisi yang selama ini hanya milik satu orang. Dengan Slovakia dan Kroasia serta Ceko di depan mata, setiap pertandingan menjadi ujian yang tidak boleh disia-siakan.

Jika mampu menjaga konsistensi, bukan tidak mungkin persaingan kiper nomor satu Inggris akan berlangsung hingga turnamen besar berikutnya. Bagi Trafford, itu bukan sekadar soal posisi, melainkan soal membuktikan bahwa pilihan yang tidak ideal pun bisa berakhir dengan cara yang bermakna. Seperti yang ia katakan sendiri, yang ia lakukan hanyalah memainkan kartu yang dibagikan.

Similar Posts