Alexia Putellas Rebut Ballon d’Or Féminin Ketiga Kalinya
Alexia Putellas kembali naik ke puncak sepak bola putri setelah memenangi Ballon d’Or Féminin untuk ketiga kalinya, torehan yang menyamai rekor peraih gelar terbanyak. Gelandang berusia 32 tahun itu menerima trofi di atas panggung London Palladium, Senin malam, dan menegaskan posisinya sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang masa. Kemenangan ini juga memperpanjang dominasi Spanyol atas penghargaan paling bergengsi di sepak bola putri tersebut.
Gelar tersebut bukan sekadar pengulangan, melainkan simbol kebangkitan seorang pemain yang sempat kehilangan momentum. Putellas pernah menderita cedera ligamen anterior atau ACL pada 2022, cedera yang kerap mengakhiri karier seorang pesepak bola. Ia menolak menyerah pada kondisi itu dan membuktikan bahwa jalan kembali ke level tertinggi masih terbuka. Namun di balik malam gemilang tersebut, daftar nominasi yang terbatas dan sejumlah ketimpangan dalam acara justru memperlihatkan bahwa kesetaraan di ajang ini belum sepenuhnya tercapai.
Penampilan Gemilang yang Membawa Alexia Putellas ke Puncak
Penilaian juri kali ini berpihak pada produktivitas Putellas di kompetisi paling sulit di Eropa. Ia menjadi pemain dengan kontribusi gol terbanyak di Liga Champions Putri musim lalu, dengan total 14 kontribusi dari 11 penampilan, terdiri atas delapan gol dan enam assist. Angka tersebut bukan hanya statistik pribadi, melainkan mesin utama yang mengantar Barcelona mengangkat trofi juara. Konsistensi di level klub itulah yang membuat namanya mengumpulkan suara terbanyak.
Kontribusinya bersama tim nasional melengkapi berkas pencalonannya. Pada Desember lalu, Putellas tampil sebagai bintang dalam kemenangan Spanyol di babak final Nations League, momen yang mengukuhkan perannya sebagai pemimpin di lini tengah. Kombinasi performa di level klub dan negara itulah yang sulit ditandingi kandidat lain. Jarang ada pemain yang mampu menyatukan keduanya dalam satu periode penilaian yang sama.
Yang menarik, Putellas mengucapkan kalimat penuh makna dalam pidato penerimaannya. Setelah 14 tahun membela Barcelona, ia memilih menegaskan bahwa penghargaan itu dipersembahkan untuk klub yang membesarkannya, meski kini ia sudah berseragam London City Lionesses. Klub barunya tentu berbangga memiliki pemain peraih Ballon d’Or di dalam skuadnya, tetapi pernyataan Putellas menunjukkan bahwa ikatan emosionalnya dengan Barcelona tidak luruh oleh perpindahan. Kesetiaan semacam ini jarang ditemukan di sepak bola modern yang serba cepat berpindah klub.
Malam Hampir Sempurna bagi Barcelona dan Insiden Kikuk Laporta
Barcelona benar-benar mendominasi panggung malam itu. Trofi utama jatuh ke tangan Putellas, sementara Cata Coll dinobatkan sebagai kiper terbaik dan Pere Romeu menerima penghargaan pelatih terbaik. Di kategori pemain muda, Vicky López keluar sebagai pemenang, sedangkan Ewa Pajor harus puas menjadi runner-up di belakang Putellas dan Clara Serrajordi menempati posisi kedua pada voting pemain muda. Hampir seluruh kategori besar dibawa pulang oleh wakil klub asal Katalunya tersebut.
Satu hal mengganggu kesempurnaan malam itu. Presiden Barcelona, Joan Laporta, yang naik panggung untuk menerima penghargaan klub putri terbaik, justru berbicara tentang keyakinannya bahwa tim putra bisa menjuarai Liga Champions musim ini. Pernyataannya terasa janggal karena ia tengah menerima apresiasi untuk tim putri, bukan tim putra. Momen itu menjadi pengingat bahwa perhatian terhadap sepak bola putri, bahkan di dalam klub yang tim putrinya paling bersinar, masih bisa tergelincir ke bayang-bayang tim putra.
Meski begitu, secara keseluruhan acara di London Palladium berjalan tanpa kontroversi seksis yang pernah mencoreng tahun-tahun awal penghargaan ini. France Football baru menambahkan kategori putri pada 2018, dan sejak itu penyelenggara berangsur memperbaiki diri. Kini pemain putri setidaknya memperoleh penghargaan pada kategori yang sama dengan pemain putra. Namun perjalanan menuju kesetaraan penuh jelas belum tuntas, dan beberapa hal malam itu memperlihatkan jarak yang masih tersisa.
Daftar Pendek yang Terbatas dan Ketimpangan di Atas Panggung
Kritik paling mencolok menyangkut panjang daftar nominasi yang tidak seimbang. Kategori pemain muda pria mencalonkan 10 nama, sementara kategori pemain muda putri hanya lima nama. Hal serupa terjadi pada penghargaan kiper, di mana jumlah kandidat pria lebih banyak daripada putri. Perbedaan ini terlihat sepele, tetapi menimbulkan pertanyaan mendasar: jika tujuannya setara, mengapa ruang pengakuan bagi pemain putri dibuat lebih sempit?
Komposisi pengisi acara juga menuai sorotan. Selain Lucy Bronze yang naik panggung menyerahkan trofi kepada López, hampir tidak ada pemain putri lain yang bertugas mempersembahkan penghargaan. Putellas menerima Ballon d’Or Féminin dari Michael Owen, bukan dari sosok seperti Mia Hamm, Birgit Prinz, atau Sun Wen yang punya kredibilitas langsung di sepak bola putri. Pilihan itu bisa dipahami sebagai konsekuensi dari sedikitnya jumlah mantan peraih penghargaan yang tersedia, karena sepanjang sejarah hanya ada Ada Hegerberg, Megan Rapinoe, Putellas, dan Aitana Bonmatí. Namun justru di sinilah persoalan itu terasa: keterbatasan tersebut adalah warisan dari terlambatnya penghargaan ini diperkenalkan.
Ada pula catatan soal dominasi nama yang berulang. Selama enam tahun berturut-turut, trofi utama selalu berpindah di antara Putellas dan rekan setimnya di tim nasional, Aitana Bonmatí. Di satu sisi, hal itu membuktikan betapa luar biasanya generasi emas Spanyol saat ini. Di sisi lain, pengulangan yang panjang bisa membuat publik kehilangan rasa kejutan terhadap ajang yang seharusnya menjadi panggung bagi lebih banyak nama baru.
Wafcon yang Terlewat dan Minimnya Pengakuan bagi Pemain Afrika
Periode penilaian yang digunakan juri menjadi salah satu persoalan yang paling banyak disesalkan penggemar. Rentang waktu yang dinilai berakhir pada pertengahan Juli, mengikuti konklusi Piala Dunia putra, sehingga tidak mencakup Piala Afrika Wanita atau Wafcon yang tahun ini digelar belakangan, tepatnya 26 Juli hingga 16 Agustus. Konsekuensinya, penampilan di turnamen itu baru akan diperhitungkan pada ajang tahun berikutnya, bukan pada malam ini.
Dampaknya langsung terasa bagi sejumlah figur. Valentine Nguele, pelatih Kamerun yang mengantar timnya menjuarai Wafcon, sama sekali tidak masuk nominasi pelatih terbaik. Ketimpangan ini bukan sekadar soal tanggal penilaian, melainkan memperlihatkan bagaimana kalender kompetisi yang dibangun di sekitar sepak bola pria bisa secara tidak adil mendorong prestasi pemain dan pelatih Afrika ke luar jendela penilaian. Sebuah pencapaian besar pun bisa luput dari apresiasi hanya karena waktunya tidak cocok dengan agenda yang berlaku.
Satu nama yang berhasil menembus adalah Temwa Chawinga, yang menjadi pemain Afrika pertama yang finis di sepuluh besar kategori putri. Pencapaian itu layak diapresiasi, tetapi banyak pihak menilai posisinya seharusnya lebih tinggi lagi mengingat performanya sepanjang musim. Ketika satu-satunya wakil dari sebuah benua besar harus menerima posisi yang dirasa kurang adil, pertanyaan tentang representasi dalam proses voting pun sulit dihindari.
Peluang Pemain dari Negara Kecil dan Peluang Tahun Depan
Putellas memang pemenang yang layak, tetapi sebagian pengamat melihat malam itu sebagai peluang yang terbuang. Penghargaan ini idealnya juga bisa menjadi titik terang bagi pemain dari negara yang kecil kemungkinannya menembus turnamen internasional besar. Sebab, Piala Dunia Wanita tahun depan di Brasil hampir pasti akan mengarahkan sorotan ke tim-tim besar, sehingga peluang pemain dari negara lain untuk bersinar di ajang tahunan seperti ini makin sempit.
Kasus Ewa Pajor adalah ilustrasinya. Striker Polandia itu finis kedua setelah musim luar biasa bersama Barcelona, tetapi kemungkinan besar ia sulit naik satu peringkat pada tahun mendatang. Bukan karena kualitasnya menurun, melainkan karena negaranya tidak memiliki panggung sebesar Piala Dunia untuk menunjukkan performa. Situasi serupa menimpa Khadija Shaw, penyerang Jamaika yang finis ketiga setelah mengantar Manchester City meraih gelar domestik pertama dalam satu dekade, bahkan tanpa bermain di Liga Champions. Fakta bahwa ia tetap masuk tiga besar menunjukkan betapa dihormatinya kualitasnya.
Nama lain yang menarik perhatian adalah Melchie Dumornay dari Haiti, yang finis di posisi keempat. Pada usia 23 tahun, ia masih memiliki banyak waktu untuk mendaki lebih tinggi, meski peluang terbesarnya kemungkinan baru datang pada tahun-tahun genap yang bertepatan dengan perhelatan internasional besar. Ini memperlihatkan satu pola yang jarang dibicarakan: bagi pemain dari negara dengan skuad terbatas, momen turnamen besar adalah satu-satunya jalan pintas menuju pengakuan global.
Jika performanya tetap stabil, sulit membayangkan ada yang berani bertaruh melawan Putellas pada tahun depan. Spanyol sendiri akan menargetkan keberhasilan mempertahankan gelar juara dunia, dan peran gelandang tersebut masih akan menjadi tulang punggung. Namun harapan publik jelas: daftar nominasi yang lebih setara, jendela penilaian yang lebih inklusif, dan panggung yang memberi ruang lebih banyak bagi nama-nama baru.
Kemenangan Alexia Putellas bukan hanya cerita tentang individu yang berhasil bangkit dari cedera berat dan kembali meraih trofi tertinggi. Ini juga cerita tentang sepak bola putri yang maju pesat, tetapi masih terkendala aturan dan kebiasaan warisan masa lalu. Trofi ketiganya adalah bukti kelas dunia yang tidak terbantahkan, sementara kritik terhadap daftar pendek dan kalender penilaian adalah pengingat bahwa sepak bola putri layak mendapat kesetaraan yang setara.
Dengan sentuhan halus, kepemimpinan, dan kreativitas yang terus ia tunjukkan di lapangan, gelar ketiga ini terasa sebagai penghormatan yang pantas bagi perjalanan panjang seorang pemain. Yang tersisa untuk ditunggu adalah apakah penyelenggara mampu berbenah secepat performa para pemainnya sendiri.
