|

London City Lionesses: Ambisi Besar di WSL 2026-27

London City Lionesses menjadi salah satu tim paling sulit ditebak di Women’s Super League (WSL) 2026-27. Setelah musim debut yang solid di posisi keenam, tim asuhan Eder Maestre ini melakukan perombakan besar-besaran dengan mendatangkan delapan pemain baru. Yang paling mencolok, dua kali peraih Ballon d’Or, Alexia Putellas, ikut meramaikan skuad mereka musim ini.

Para jurnalis Guardian memperkirakan London City Lionesses akan finis di posisi keempat—meski itu hanya rata-rata prediksi, bukan angka mutlak. Ambisi besar datang dari pemilik klub, Michele Kang, yang terus mendorong timnya menembus papan atas WSL. Namun, status mereka yang baru satu musim berkecimpung di WSL membuat ekspektasi musim ini penuh tanda tanya.

Prospek London City Lionesses Musim Ini

Memprediksi wajah London City Lionesses musim ini hampir mustahil dilakukan. Delapan pemain anyar telah direkrut saat Michele Kang berupaya membawa timnya merangsek ke puncak klasemen WSL. Di antara wajah-wajah baru itu ada sederet nama besar, termasuk Alexia Putellas yang dua kali memenangkan Ballon d’Or.

Musim lalu, tim debutan WSL ini menutup kompetisi di peringkat keenam—catatan yang cukup terhormat. Namun, jarak mereka dengan tiga besar mencapai 22 poin, angka yang menunjukkan betapa jauhnya ketertinggalan tersebut. Bukti-bukti menunjukkan Kang bisa sangat kejam bila ekspektasinya tidak terpenuhi.

Padahal, awal musim 2025-26 sebenarnya berjalan baik bagi London City. Meski begitu, Jocelyn Prêcheur tetap dipecat dari kursi manajer menjelang Natal dan digantikan oleh Eder Maestre. Keputusan ini menegaskan standar tinggi yang dipasang sang pemilik.

Perombakan Skuad dan Ambisi Michele Kang

Perombakan total terhadap tim yang berharap masuk tiga besar sebenarnya sudah terbukti mahal di masa lalu. Harapan terbesar London City adalah kualitas para pemain baru bisa mempercepat perkembangan mereka menjadi tim yang mampu menembus Liga Champions. Target jangka panjangnya jelas: bersaing memperebutkan gelar juara WSL.

Yang tidak bisa dimungkiri, belanja besar dan ambisi Michele Kang berperan penting dalam membawa pemain-pemain terbaik dunia ke WSL. Bek Barcelona, Mapi León, mengaku kehadiran Kang menjadi salah satu pertimbangan besarnya pindah. “Semuanya diperhitungkan ketika Anda membuat keputusan seperti ini, dan tentu saja dia adalah bagian penting karena melihat perempuan lain melakukan begitu banyak hal untuk membantu olahraga dan sepak bola wanita bertumbuh, saya rasa mustahil untuk tidak menghargainya,” kata León. “Saya pikir itu sesuatu yang sangat kuat.”

Kondisi Keuangan di Balik Layar

Di luar lapangan, London City sedang menghadapi tantangan finansial yang serius. Laporan keuangan klub untuk musim 2024-25 menunjukkan kerugian operasional sebesar £10,6 juta. Jumlah itu lebih dari sepuluh kali lipat pendapatan mereka yang hanya £902 ribu pada periode yang sama.

Belanja besar menjelang musim perdana di WSL—dan belanja yang lebih besar lagi pada musim panas ini—akan kembali terlihat pada laporan keuangan berikutnya. Yang lebih kritis, klub perlu segera memperbesar basis penggemar mereka. Tanpa basis suporter dari klub pria yang bisa diandalkan, London City harus kreatif mencari cara.

Eder Maestre dan Skuad Bertabur Bintang

Eder Maestre ditunjuk sebagai manajer pada Januari setelah sebelumnya menangani UD Tenerife di Liga F Spanyol dan membawa tim itu finis di peringkat keenam. Kontrak Maestre di London City berjalan hingga 2028, tetapi ia tidak bisa berpuas diri mengingat standar tinggi dari Kang. Pria berusia 42 tahun itu telah mengubah cara bermain timnya, dan deretan rekrutan anyar bisa membuat sistemnya semakin efektif.

Rekrutan Anyar yang Mengguncang WSL

Mary Earps, Mapi León, dan Kadidiatou Diani masing-masing datang dari Paris Saint-Germain, Barcelona, dan Lyon. Namun, rekrutan yang benar-benar mengguncang WSL adalah Alexia Putellas. Pemain berusia 32 tahun itu menghabiskan 14 tahun di Barcelona dan menjadi figur sentral yang mengantarkan klub ke puncak sepak bola wanita dunia.

  • Mary Earps – dari Paris Saint-Germain
  • Mapi León – dari Barcelona
  • Kadidiatou Diani – dari Lyon

Putellas masih jauh dari kata habis, dan ia punya banyak pilihan klub di seluruh dunia saat memutuskan meninggalkan Spanyol. Kepindahannya ke London City adalah pernyataan niat yang jelas dari Michele Kang. Kehadiran pemain sekelas Putellas otomatis menaikkan level ekspektasi publik terhadap tim yang baru satu musim membuktikan diri di WSL ini.

Catatan Statistik dan Pemain yang Diprediksi Bersinar

Ada pekerjaan rumah besar bagi lini belakang London City musim ini. Musim lalu, mereka menjadi tim dengan kesalahan defensif paling banyak yang berujung gol menurut data Opta. Mereka juga menjadi tim yang paling sering kebobolan lewat tendangan penalti di WSL.

Penjaga gawang Elene Lete sempat menyelamatkan satu eksekusi penalti, tetapi pemain berusia 24 tahun itu butuh bantuan lebih besar dari rekan-rekan di depannya. Sementara itu, Nicole Anyomi disebut-sebut sebagai pemain yang bisa bersinar di tengah hingar-bingar rekrutan bintang. Penyerang asal Jerman ini masih asing bagi publik Inggris karena karier klubnya dihabiskan di Bundesliga Wanita, dan selama lima tahun di Frankfurt ia mencetak 60 gol dalam 130 pertandingan. Ia juga mengoleksi empat gol dalam 34 laga bersama timnas Jerman.

Kandang, Suporter, dan Target Jangka Panjang

London City Lionesses masih bermarkas di Hayes Lane, Bromley, yang berkapasitas 5.150 penonton. Stadion ini jauh dari ideal bagi klub seambisius London City yang ingin terus bertumbuh. Target jangka menengah hingga panjang adalah pindah ke kandang yang lebih besar, tetapi lahan di sekitar London sangat terbatas.

Sebelum bisa pindah, London City harus lebih dulu memperbesar jumlah penggemar mereka. Putellas sendiri menyampaikan komitmen penuhnya untuk proyek ini. “Saya akan memberikan apa pun yang dibutuhkan proyek ini dari saya, jadi saya berkomitmen 100 persen,” ujarnya. “Saya lapar akan kemenangan, ingin menjadi lebih baik setiap hari, dan berjuang bersama rekan setim demi meraih kemenangan.”

Kesimpulan

London City Lionesses memasuki musim 2026-27 dengan modal ambisi luar biasa dan risiko yang tidak kecil. Perombakan besar, belanja tinggi, dan rekrutan megabintang seperti Putellas membuat mereka layak menjadi sorotan utama WSL musim ini. Namun, semua itu belum menjamin kesuksesan di lapangan.

Sejarah membuktikan bahwa perubahan total tidak selalu langsung berbuah manis bagi tim yang ingin menembus tiga besar. Dengan fondasi keuangan yang masih timpang, basis penggemar yang perlu diperbesar, dan ekspektasi tinggi dari Michele Kang, perjalanan London City Lionesses musim ini akan penuh lika-liku. Pertanyaannya sekarang, akankah ambisi besar itu berubah menjadi trofi, atau justru menjadi bumerang?

Similar Posts